Design Thinking
Dalam buku Harvard Business Review’s 10 Must Read, berjudul On Design Thinking (2020), Tim Brown menjelaskan yang disebut “design thinking” adalah sebuah metode untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia yang tersedia oleh teknologi dan secara strategis dapat diukur. Bason & Austin (2020) dalam Brown (2020), menyebutkan bahwa design thinking menggambarkan proses, metode, dan alat untuk menciptakan produk-produk, jasa, solusi, dan pengalaman yang berpusat pada manusia. Termasuk secara keseluruhan membangun koneksi personal dengan pengguna (users). Para pemimpin sekarang mencari inovasi sebagai sumber prinsipil dari pembeda dan keunggulan kompetitif. Mereka melakukan secara baik untuk menggabungkan design thinking ke dalam seluruh fase dari proses.
Tim Brown menguraikan karakteristik dari design thinkers tersebut adalah: Pertama, empathy. Mereka yang memilik empati mampu membayangkan dunia dalam perspektif yang beragam. Mereka adalah rekan-rekan, client, pengguna akhir, dan pelanggan (saat ini dan yang prospek). Dengan pendekatan “people first” seorang pemikir disain bisa membayangkan solusi yang secara keseluruhan diinginkan dan memenuhi kebutuhan nyata atau terpendam. Seorang pemikir disain yang hebat mengobservasi dunia secara detil dalam hitungan menit. Mereka memperhatikan sesuatu yang orang lain tidak melakukannya dan menggunakan wawasannya untuk menginspirasi inovasi.
Kedua, integrative thinking. Mereka tidak tergantung pada proses analisis produk maupun pilihan, tetapi juga memamerkan kemampuan untuk melihat semua yang menonjol dan terkadang bertentangan, aspek dari problem yang membingungkan dan menciptakan solusi baru yang berkembang dan memperbaiki secara dramatis alternatif-alternatif yang ada saat ini. Ketiga, optimism. Mereka berasumsi tak peduli berapa besar tantangan dari hambatan dari masalah yang dihadapi, minimal satu solusi yang potensial lebih baik dari alternatif yang ada. Keempat, experimentalism. Inovasi yang signifikan tidak datang dari kumpulan pijatan atau sentuhan. Design thinking mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi hambatan dengan cara-cara kreatif yang selanjutnya menuju arah yang seluruhnya baru. Kelima, collaboration. Meningkatnya kompleksitas dari produk dan layanan, dan pengalaman menggantikan mitos dari genius tunggal dengan realitas kolaborator interdisipliner yang antusias. Seorang pemikir disain tidak sekedar bekerja seiring dengan disiplin lain; banyak diantara mereka memiliki pengalaman yang signifikan lebih dari satu. Di IDEO, kami mempekerjakan insinyur dan ahli pemasaran, antropologis dan desainer industri, arsitek dan psikolog. (Catatan: IDEO adalah firma desain produk yang berdiri tahun 1991 – saat ini dipimpin oleh CEO Tim Brown).
Organisasi Publik
Dapatkah organisasi publik, yang bergerak di bidang konservasi alam dan lingkungan hidup menggunakan design thinking sebagaimana telah sangat maju diterapkan di sektor swasta? Saya merasakan bahwa kelima modalitas seorang design thinkers, yaitu (1) empati, (2) berfikir terpadu, (3) optimis, (4) bereksperimen, dan (5) kolaborasi, sudah cocok dan klop dengan apa yang sebenarnya kita lakukan sepuluh tahun terakhir ini. Contohnya di program Perhutanan Sosial (sejak 2014) dan Kemitraan Konservasi yang dimulai tahun 2018.
Prinsip pertama, yaitu empati akan mendorong kita untuk mengutamakan aspek manusia (people first), atau people center approach model yang dikembangkan Alm. Dr. Soedjatmoko, bahkan sejak di era 1970-an. Dalam Sepuluh Cara (Baru) Kelola Kawasan Konservasi (2018), menempatkan masyarakat sebagai subyek. Berarti nguwongke (memanusiakan manusia: bahasa jawa). Prof Jatna Supriatna menyatakan inilah yang disebut konservasi yang humanis.
Prinsip kedua bahwa kita semestinya berfikir secara terpadu, tidak terkotak-kotak, tidak egois mau menange dewe (mau menang sendiri: bahasa jawa). Prinsip ini yang berkali-kali saya sebut sebagai “konservasi lintas batas”. Konservasi yang mampu mengurangi egoisme keilmuan, kepakaran, dan pengalaman. Diperlukan model strategi konservasi dengan pendekatan hybrid yang memadukan modern science dengan local wisdom berdasarkan experience dalam jangka panjang (komunikasi pribadi dengan Prof Johan Iskandar pada tahun 2022). Prinsip ketiga yaitu optimisme. Adalah sikap mental yang selalu berfikir positif dan berkeyakinan pasti akan ada solusi. Optimisme adalah sikap mereka yang bekerja dengan penuh kesadaran. Bekerja dengan sadar menurut Tolle (2004), adalah bekerja yang didukung oleh tiga hal utama, yaitu: (1) menikmati pekerjaannya atau enjoyment, (2) menerima dengan ikhlas atau acceptance, dan (3) dengan penuh semangat atau enthusiasm.
Prinsip keempat, yaitu bereksperimen. Inilah yang disebut dalam Theory U (C. Otto Scharmer, 2007), sebagai prototyping atau membuat role model yang di akhir 2022 telah dapat dipamerkan lebih dari 100 inovasi Ditjen KSDAE yang diangkat dari role model di hampir seluruh UPT. Eksperimen skala kecil apabila berhasil dapat direplikasi di tempat lain dengan menerapkan prinsip adopsi dan adaptif, sesuai dengan aspirasi dan kondisi sosial, ekonomi, biofisik, dan dinamika setempat.
Prinsip kelima, yaitu kolaborasi. Pak Wahjudi Wardojo (2020) menyatakan bahwa kolaborasi is a must. Mengapa menjadi suatu keharusan? Karena mengurus sumber daya alam yang sangat luas itu tidak akan mungkin berhasil dilakukan hanya oleh pemerintah. Para pihak harus bahu membahu, bergotong-royong, membangun aksi kolektif (collective action) untuk mengurusnya. Kolaborasi atau kerjasama sebaiknya berpegang pada prinsip saling menghargai, saling percaya dan saling menguntungkan. Prinsip yang dikenal sebagai prinsip 3M (mutual respect, mutual trust dan mutual benefit), temuan Pak Wahjudi (2020) ketika menjadi Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (1993-1994). Prinsip yang mudah diucapkan namun tidak mudah ketika dijalankan. Caranya adalah dengan terus-menerus melakukan ujicoba sambil mencermati seluruh proses pembelajaran (keberhasilan dan kegagalan), untuk dapat menemukan solusinya, agar tidak mengulangi kegagalan yang sama di masa depan.***
Daftar Rujukan
Brown, T. 2020. HBR’s 10 Must Reads. On Design Thinking. Harvard Business Review Press. Boston, Massachusetts.
Scharmer, C. Otto. 2007. Theory U. Leading from the Future as Its Emerges. The Social Technology of Presencing. The Society of Organizational Learning, Inc. 25 First Street, Suite 414 Cambridge, MA 02141 USA.
Tolle., E., 2005. A New Earth. Create A Better Life. Michael Joseph an Imprint of Penguin Books.
Wardojo, W. 2020. Inspirasi dari Gunung Gede Pangrango. Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, didukung oleh Konservasi Alam Nusantara untuk Indonesia Lestari dan Wildlife Conservation Society.
Wiratno, Sya’bani (Editor). 2022. 100+ Inovasi KSDAE. Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tinggalkan Balasan