Street Bureaucrat

Siapa Mereka?

Street Beraucrat, atau birokrat jalanan. Adalah mereka para birokrat yang sering kali turun ke lapangan. Istilah yang populer dan dicontohkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo adalah “blusukan”. Inspeksi mendadak (Sidak), cek lapangan tanpa memberitahu lebih dulu kepada pejabat daerah atau para pihak yang bertanggung jawab bekerja di lapangan.

Mengapa cek ke lapangan itu sangat penting? Pertama, untuk menghindari dan menghilangkan mental ‘Asal Bapak Senang’ (ABS). Kedua, mengetahui secara langsung, masalah, hambatan, maupun keadaan force majeure yang dihadapi oleh pelaksana atau petugas yang sehari-hari bekerja di lapangan. Ketiga, di lapangan selalu bertemu dengan hal-hal yang tidak terduga, yang dapat menjadi inspirasi untuk solusi terhadap persoalan yang dihadapi dan ragam potensi yang dapat dikembangkan. Keempat, mendorong tumbuhnya sikap mental yang disebut “2A”, yaitu Awake (bangun) dan Alert (waspada). Sewaktu-waktu tanggung jawab ia dan kelompoknya bisa diperiksa tiba-tiba, sehingga tim lapangan harus selalu bangun dan waspada karena sewaktu-waktu bisa diperiksa.

Kelima, mendekatkan hubungan batin antara atasan dengan bawahan yang menimbulkan kebanggaan, surprise, trenyuh bahkan sampai menangis bila yang hadir Bapak Presiden. Semua itu semakin menumbuhkan kepercayaan (trust) yang tinggi di lapisan paling bawah dari roda pembangunan. Juga pasti menumbuhkan rasa bangga, karena walaupun mereka menjadi bagian kecil dari proses pembangunan secara luas, namun benar-benar diperhatikan oleh pimpinan tertinggi. Mereka merasa ikut berkontribusi nyata untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Keenam, pimpinan mengetahui secara pasti bahwa proyek-proyek yang digulirkan di lapangan memberikan manfaat  nyata, yaitu perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat, sekaligus menghilangkan, mencegah, mengurangi kemungkinan korupsi dan manipulasi.

Blusukan di lokasi kemitraan konservasi Sei Bamban, TN Gunung Leuser (3 Juli 2023)

Rimbawan (Birokrat) Lapangan

Banyak rimbawan, sebutan untuk ASN yang dilahirkan dari Fakultas Kehutanan atau Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan, atau Sekolah Menengah Kejuruan (Kehutanan), yang semestinya 50-60% waktunya dialokasikan untuk mengurus (bukan hanya mengelola) kawasan hutan beserta isinya. Arti “mengurus” menurut penulis lebih dalam daripada “mengelola”. Mengurus berarti mampu melakukan seluruh aspek pengelolaan kawasan hutan, mulai dari aspek silvikultur (ilmu cara membangun hutan), sampai pada aspek pengembangan ekonomi, keterlibatan masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan hutan. Untuk mengembangkan kesejahteraannya sambil terus membangun hutan sampai jadi (hutan) sebagai kesatuan habitat dan ekosistem baru. Termasuk mengurus tata kelola biodiversitas, jasa lingkungan (air, udara, carbon), wisata alam, pendidikan lingkungan, kelompok sadar satwa liar, sadar iklim, wisata alam, cinta alam, dan lain sebagainya. 

Di bidang konservasi alam, Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, dengan 74 UPT yang mengurusi 27 juta hektar kawasan konservasi, peredaran satwa, perlindungan satwa liar, penangkaran, pencegahan kebakaran hutan, pencegahan perdagangan satwa liar ilegal, penegakan hukum patroli kawasan, operasi jerat, pencegahan dan penanganan illegal logging, perambahan, sertifikasi, pengaplingan kawasan konservasi, dan lain-lain. Ini memaksa birokrat Ditjen KSDAE menjadi street bureaucrats. Birokrat-birokrat lapangan, dengan waktu kerja 24 jam sepanjang ia masih menjabat. Staf-staf KSDAE berjibaku memadamkan api, membersihkan jerat satwa, memasang camera trap dan mengunduh hasilnya, memasang GPS collar (gajah, harimau), patroli darat, rawa, danau air tawar, gambut, pantai, laut, terumbu karang, pulau-pulau kecil, pemantauan khusus pasca letusan seperti di Cagar Alam Anak Gunung Krakatau, dan lain sebagainya.

Peran Teknologi

Dengan adanya teknologi informasi,  berkembang teknik-teknik pemantauan kawasan seperti penggunaan citra, drone, GPS collar, CCTV, camera trap, teknologi perekam suara, sangat membantu dalam meningkatkan pola kerja lapangan (street bureaucrat) tersebut  dapat menjangkau areal yang lebih luas, meningkatkan efektivitas dan efesiensi pendanaan dalam monitoring pergerakan satwa liar (wildlife movement), perubahan tutupan vegetasi alami, pendudukan kawasan konservasi oleh berbagai kegiatan ilegal. Namun demikian, kegiatan patroli lapangan, dan anjangsana ke desa-desa penyangga tetap penting. Namun, pemetaan sosial tidak dapat dilakukan oleh drone. Hanya bisa dipetakan secara komprehensif dengan berjalan kaki, naik motor, kapal kecil, melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, dan melakukan kegiatan intelijen untuk dapat memetakan pola pemodal-pemain, patron-klien, dan sebagainya. Dengan mengembangkan komunikasi asertif yang intensif, nantinya dapat tumbuhkan relasi sosial yang lebih hangat dan menyejukkan, saling menghargai dan mencari solusi bersama dari persoalan yang dihadapi.

Perhatikan ekspresi ibu-ibu peserta Kemitraan Konservasi ini yang sangat ceria dan malahan senang disidak oleh saya, diajari ‘ritual” memeluk pohon (petai)  dan saya sempat menikmati buah naga hasil dari kebun mereka (Sei Bamban, TN Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, 3 Juli 2023).

Medsos-kan

Kerja-kerja lapangan dalam senyap itu kini dapat diketahui dengan mudah oleh publik melalui media sosial, terutama Instagram, yang penggunanya di Indonesia pada tahun 2021 telah mencapai 86,6% dari pengguna internet sebanyak 202,6 juta. Street bureaucrat konservasi kini tidak lagi bekerja dalam diam. Prestasi kerja lapangan mereka dapat dengan mudah diunggah di Instagram, memberikan public literacy dan sekaligus mulai appreciated by public. Bravo KSDAE.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *