Explorer Muda Reza Saputra

Reza Saputra

Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2019,  saya sudah mendengar nama Reza Saputra, seorang staf  fungsional yang sangat tertarik pada anggrek. Maka, tempat kerjanya di Balai Besar KSDA, menjadi semacam surga untuk memuaskan dahaganya akan rahasia alam ciptaan Tuhan tersebut, terutama anggrek. Bersama para peneliti, baik dari LIPI (sekarang BRIN), universitas di dalam negeri dan di luar negeri, namanya telah muncul dalam terbitan Jurnal Phytotaxa sejak 2020 sampai 2023. Empat spesies baru anggrek telah diidentifikasi dan diterbitkan dalam jurnal tersebut, yaitu: (1) Bulbophyllum wiratnoi, (2) Dendrobium dedeksantosoi, (3) Dendrobium sagin, dan (4) Dendrobium moiorum.

Pada tahun 2023 kembali dipublikasikan hasil temuan di Jurnal Phytotaxa 589 (3): 283–288 https://www.mapress.com/pt/Copyright © 2023 Magnolia, spesies anggrek yang diberi nama Bulbophyllum wiratnoi (Orchidaceae), dengan judul “A New Species of Section Epicrianthes from Indonesian New Guinea”. Tertulis pada jurnal tersebut adalah para peneliti, yaitu :  REZA SAPUTRA (Balai Besar KSDA Papua Barat), WENDY A. MUSTAQIM (Program Studi Biologi, Fakultas Teknik, Universitas Samudra, Jl. Prof. Dr. Syarief Thayeb, Meurandeh, Langsa Lama, Langsa, Aceh),  JEFFREY CHAMPION (Rumahku di Awan, Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali, 82191, Indonesia), dan ANDRE SCHUITEMAN (Science Directorate, Royal Botanic Gardens, Kew, Richmond, TW9 3AB, UK). Spesies anggrek tersebut ditemukan di Taman Wisata Alam Sorong, salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Papua Barat, Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Penemuan spesies anggrek baru tersebut menyusul temuan-temuan sebelumnya yang diterbitkan Jurnal Phytotaxa 528 (5): 269–278 https://www.mapress.com/j/pt/ copyright © 2021 Magnolia Press, dengan judul “A New Species of Dendrobium Section Spatulata from Maluku, Indonesia”, oleh para peneliti: yaitu  DESTARIO METUSALA (Purwodadi Botanic Garden – Research Center for Plant Conservation and Botanic Gardens, The National Research and Innovation Agency (BRIN), Jl. Raya Surabaya-Malang km.65, Pasuruan; REZA SAPUTRA (Balai Besar KSDA Papua Barat,  Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan); TRIMANTO1 & NISYAWATI (Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Indonesia, Depok, West Java, Indonesia).

Phytotaxa 459 (2): 190–196 https://www.mapress. com/j/pt/ Copyright © 2020 Magnolia Press Dendrobium sagin (Orchidaceae: Epidendroideae), berjudul “A New Species from the Bird’s Head Peninsula, West New Guinea” dengan ‘penemu’: REZA SAPUTRA (Balai Besar KSDA Papua Barat,  Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan); WENDY A. MUSTAQIM (Botany Division, Generasi Biologi Indonesia (Genbinesia) Foundation, Jl. Swadaya Barat No. 4, Semampir, Cerme, Kabupaten Gresik, 61171, Jawa Timur); DESTARIO METUSALA (Purwodadi Botanic Garden, Research Center for Plant Conservation and Botanic Gardens, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jl. Raya Surabaya-Malang km.65, Pasuruan, East Java, Indonesia); ANDRÉ SCHUITEMAN (Science Directorate, Royal Botanic Gardens, Kew, Richmond, Surrey, TW9 3AB, UK).

Phytotaxa 430 (2): 142–146 https://www.mapress.com/j/pt/ Copyright © 2020 Magnolia Press Dendrobium moiorum (Orchidaceae: Epidendroideae), “A New Species of Dendrobium section Diplocaulobium from West Papua, Indonesia”: REZA SAPUTRA (Balai Besar KSDA Papua Barat, Ministry of Environment and Forestry, Indonesia); MARK ARCEBAL K. NAIVE  (Department of Biological Sciences, College of Science and Mathematics, Mindanao State University-Iligan Institute of Technology, Iligan City, Lanao del Norte, Philippines);  JIMMY FRANS WANMA (University of Papua, Manokwari, West Papua Province);  and ANDRÉ (Science Directorate, Royal Botanic Gardens, Kew, Richmond, Surrey, TW9 3AB, UK).

Flora Malesia

Papua Barat dan Papua merupakan bagian dari wilayah flora Malesia yang berbeda dari flora kawasan sekitarnya di Asia Tenggara, Pasifik, dan Australia. Malesia merupakan kawasan fitogeografi yang khas, 40% dari marga yang dikandungnya tidak terdapat di luar kawasan ini (Kartawinata, 2013). Selanjutnya, diuraikan kawasan fitogeografis yang lebih kecil, yaitu (1) Malesia Barat (Semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Pulau Borneo, dan Pulau-pulau di Filipina), (2) Malesia Timur (Pulau Sulawesi, Pulau-pulau di Maluku, dan Pulau Nugini, dan ( 3) Malesia Selatan (Pulau Jawa dan Madura, dan Pulau-pulau Nusa Tenggara, termasuk Timor Leste). Selanjutnya dijelaskan bahwa Flora Malesia sangat kaya dan ditaksir terdiri atas 25.000 jenis tumbuhan berbunga (Steenis, 1950) yang sebagian besar terdapat di Indonesia. Jumlah ini sama dengan 10% flora dunia (Kuswata, 2013).  Sekitar 40% marga tumbuhan di Malesia adalah endemik dan presentase untuk jenisnya lebih besar lagi. Suku terbesar adalah Orchidaceae yang diperkirakan mempunyai 3.000-4.000 jenis (Kuswata, 2013).

Kekayaan Anggrek di Region Papuasia

Gambar 1. Region Papuasia yang berada di timur Malesia

Papuasia merupakan region biogeografi yang berada di bagian timur Malesia atau pada beberapa literatur masih memasukan Papuasia ke dalam Malesia. Region Papuasia terdiri dari Kepulauan Raja Ampat, Pulau Papua, Kepulauan Bismarck dan Solomon. Berbeda dengan Region Malesia yang berasal dari Benua Asia, Region Papuasia berasal dari pergerakan lempeng Australia dan berinteraksi dengan lempeng Pasifik (Davies 2012). Karena sejarah geografi Papua yang unik tersebut, banyak spesies tumbuhan endemik berasal dari kawasan ini. Pada tahun 2020, sebanyak 99 peneliti yang berasal dari 19 negara melakukan penelitian terkait kompilasi data keanekaragaman jenis-jenis tumbuhan di Region Papuasia (Camara-Leret et al. 2020). Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa Papua memiliki keanekaragaman tumbuhan terbanyak di dunia. Sebanyak 13.634 spesies yang terkelompok ke dalam 1.742 genus dan 264 famili ditemukan di Pulau Papua. Dengan kata lain, Papuasia merupakan rumah bagi 22.61% spesies tumbuhan di dunia. Selain itu, penelitian tersebut juga membuktikan tingkat endemisitas tumbuhan di Papua mencapai 68%. Famili tumbuhan dengan keanekaragaman tertinggi yakni anggrek atau Orchidaceae.

Gambar 2. Grafik Keanekaragaman Jenis Tumbuhan di Papuasia (Camara-Leret et al. 2020)

Anggrek atau Orchidaceae merupakan famili tumbuhan berbunga dengan jumlah anggota terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 28.000 spesies dan 736 genera (Chase et al., 2015). Pada Region Papuasia sendiri, sedikitnya terdapat sebanyak 2.856 spesies anggrek dengan 2.464 spesies diantaranya merupakan spesies endemik (Camara-Leret et al. 2020). Dengan kata lain, sebanyak 86.27% anggrek Papua tidak dapat ditemukan selain di hutan alami Papua. Banyaknya angka endemisitas berbanding lurus dengan tingginya penemuan spesies baru. Umumnya anggrek papua hanya ditemukan satu kali di tempat anggrek tersebut pertama kali dikoleksi. Grafik catatan penemuan anggrek di Region Papuasia dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik catatan penemuan anggrek di Region Papuasia

Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa lebih dari 1.200 jenis anggrek Papua hanya ditemukan di satu tempat. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Rudolf Schlecther (1911-1914) dengan temuan lebih dari 1.100 jenis baru.  Sebagian besar anggrek tersebut hanya dikoleksi pada satu tempat, yakni di German New Guinea. Berdasarkan de Vogel et al. (2018), pengkoleksian anggrek pada Pulau Papua bagian Indonesia lebih sedikit jika dibandingkan dengan di Papua New Guinea (Gambar 4). Pengkoleksian anggrek banyak dilakukan di daerah Pegunungan Tengah Papua dan Pegunungan Arfak. Sedangkan daerah lainnya masih banyak gap botanical exploration.

Gambar 4. Catatan tempat pengkoleksian anggrek di Region Papuasia

Pada tahun 2016, para peneliti dari Belanda melakukan penelitian untuk mengetahui pola persebaran dan untuk memproyeksikan kekayaan anggrek di Region Papuasia (Vollering et al. 2016). Para peneliti tersebut mengumpulkan semua rekaman catatan pengkoleksian anggrek di Region Papuasia. Kemudian menggabungkannya dengan beberapa faktor abiotik, antara lain curah hujan, suhu, pH tanah, kelembaban, ketinggian, intensitas cahaya, dan lain-lain. Didapatkan hasil bahwa sebagian besar anggrek Papuasia diprediksikan terdapat di Papua New Guinea. Meskipun banyaknya rekaman catatan pengkoleksian di daerah tersebut sangat memengaruhi prediksi, akan tetapi terdapat lebih banyak faktor abiotik yang mendukung untuk tumbuhnya anggrek di daerah dataran tinggi Papua New Guinea. Berdasarkan penelitian ini, ketinggian dengan diversitas anggrek terbanyak berada pada 2.000-3.000 mdpl. Namun berdasarkan Schuiteman & de Vogel (2007), ketinggian dengan diversitas anggrek terbanyak berada pada 1.000-1.500 mdpl.

Gambar 5. Peta prediksi kekayaan anggrek di Papuasia

Pada tahun 2018, diestimasikan terdapat lebih dari 3.000 jenis anggrek di Region Papua (Schuiteman & de Vogel 2018, Komunikasi Pribadi). Sejalan dengan banyaknya ditemukan jenis baru anggrek dari wilayah ini, maka para peneliti memprediksikan terdapat sekitar 3.500 sampai 4.000 spesies anggrek di Region Papuasia (de Vogel et al., 2020). Sebagai contoh, spesies baru endemik yang baru dipublikasikan pada tahun 2023 adalah Bulbophyllum wiratnoi Saputra, Schuit. Mustaqim, & J. Champ, yang ditemukan di Taman Wisata Alam Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Gambar 6. Detail bunga anggrek spesies baru dari TWA Sorong, Bulbophyllum wiratnoi

Proses Penemuan dan Pengakuan Ilmiah

Proses penemuan spesies baru merupakan proses yang panjang, tidak mudah dan penuh ketelitian, serta membutuhkan faktor keberuntungan dan dasar pengetahuan spesies yang kuat. Peluang menemukan spesies baru di Papua mungkin akan lebih besar jika dibandingkan peluang menemukan spesies baru di Jawa. Proses penemuan spesies baru dimulai dari: (1) eksplorasi di ekosistem alami yang mungkin banyak ditemukan ancaman dari alam liar, (2) pengkoleksian spesimen, membuat herbarium, (3) membuat deskripsi spesies dan diagnosis dengan spesies terdekatnya, (4) pembuatan plate foto dan ilustrasi botani juga dilakukan untuk memvisualisasikan dan mendetailkan karakter yang telah ditulis pada bagian deskripsi spesies, (5) submit ke penerbit jurnal, (6) pengujian dan peninjauan oleh para reviewer,(7)  proofreading, dan (8) penerbitan. Lebih mendetail, prosedur secara umum dalam publikasi spesies baru adalah sebagai berikut:

  1. Memahami kelompok taksa yang sedang dikerjakan. Fokus dengan suatu kelompok taksa sangat mempermudah dalam proses penemuan dan penamaan spesies baru. Misalnya peneliti yang mempelajari identifikasi suku Araceae di Kalimantan pasti sangat familiar dengan jenis-jenis Araceae yang ada di Kalimantan, sehingga dapat membedakan masing-masing jenis di kelompok Araceae dengan mudah. Sederhananya, ketika belajar di kelas yang berisikan 40 orang selama bertahun-tahun, karena sudah kenal dengan masing-masing orang, ketika ada satu orang baru pasti akan dapat membedakannya sebagai orang baru. Hal fundamental yang paling penting dalam publikasi spesies baru adalah yakin bahwa yang akan dipublikasikannya merupakan benar spesies baru.
  2. Setelah paham dengan suatu kelompok taksa, langkah kedua adalah harus paham dengan dasar-dasar taksonomi, konsep spesies, biogeografi, biologi evolusi, terminologi morfologi spesies, biosistematika, klasifikasi, dan pengetahuan terkait peraturan tata nama spesies sesuai kode/standar aturan terbaru. Memiliki pengetahuan konsep spesies yang kuat menjadi sangat penting untuk menentukan kapan suatu spesies disebut berbeda genus, spesies, subspesies, variasi, forma, silangan/hybrid, mutasi, dan lain-lain. Jika pengetahuan terkait konsep spesies tidak kuat, dikhawatirkan akan membuat keliru langkah selanjutnya. Misalnya spesies yang sebenarnya adalah natural hybrid atau mutasi, namun dijadikan sebagai spesies baru hanya karena ada beberapa perbedaan karakter minor. Pengetahuan terminologi morfologi juga penting untuk dapat membuat deskripsi ilmiah suatu spesies sesuai dengan standar tata nama ilmiah terbaru. Pengetahuan dalam menamakan spesies juga penting untuk diketahui. Hal tersebut dikarenakan setiap kelompok taksa memiliki aturan penamaannya sendiri. Misalnya untuk penamaan tumbuhan, fungi dan alga mengacu kepada Shenzhen Code (International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants). Untuk hewan mengacu kepada aturan International Code of Zoological Nomenclature.
  3. Jika sudah dapat spesies yang diduga adalah spesies baru. Proses selanjutnya adalah membandingkan dengan spesies lain yang memiliki kemiripan terdekat. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca protolog spesies tersebut dan melakukan pengecekan spesimen herbarium. Jika sudah yakin spesies tersebut adalah spesies baru, langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan karakter morfologi dan membuat diagnosis karakter kunci dengan spesies terdekatnya. Meskipun telah memiliki ilmu identifikasi spesies yang kuat, bagian penemuan spesies yang diduga baru ini di alam sangat tergantung kepada faktor keberuntungan, kadang mudah dan kadang sulit. Penulisan manuskrip juga harus dipikirkan dan dilakukan dengan benar dan baik. Karena deskripsi karakter yang tidak benar akan sangat mempengaruhi peneliti lain atau pembaca dalam membayangkan dan mengidentifikasi spesies tersebut. Penggambaran ilustrasi botani atau line drawing juga penting, khususnya jika spesies tersebut memiliki karakter kunci yang tidak tampak hanya dengan foto. Penamaan spesies juga dilakukan di tahap ini, hak prerogatif author dengan tetap mengikuti standar internasional code nomenclature yang berlaku. Namun alangkah baiknya tetap mengikuti etika penamaan spesies, misalnya tidak menamakan untuk dirinya sendiri, tidak dijual untuk kepentingan komersil atau bisnis, dan lain-lain.
  4. Submit di jurnal internasional dengan cakupan taksonomi atau klasifikasi biodiversitas. Jika memungkinkan submit ke jurnal yang bereputasi tinggi agar proses review menjadi semakin baik. Pada proses ini spesies yang diajukan sebagai spesies baru tersebut diuji oleh para pakar dan reviewer internasional. Seperti sidang mahasiswa doktoral yang diuji terkait hasil penelitiannya. Author harus mempertahankan argumentasi dengan cara yang dapat diterima secara ilmiah, serta dapat membuktikan kalau ini adalah spesies baru kepada para reviewer. Kalau tidak lolos proses review berarti gagal. Jika lolos proses review namun sebenarnya bukan spesies baru, nantinya akan ada peneliti lain yang menyinonimkan nama ilmiahnya. Contohnya pada Bulbophyllum trinervosum yang disinonimkan menjadi Bulbophyllum ovalifolium karena variasi karakter minor yang tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai spesies yang berbeda.
  5. Setelah nama tersebut diterima secara ilmiah, proses selanjutnya membuat spesimen type.  Spesimen type adalah spesimen yang digunakan untuk mendeskripsikan spesies baru tersebut. Spesimen type diawetkan dan dideposit ke herbarium yang telah terindeks, jika memungkinkan minimal ke dua herbarium yang berbeda. Misalnya spesimen Dendrobium moiorum dideposit ke Herbarium Bogoriense dan Hebarium Manokwariense.
Gambar 7. Beberapa jenis anggrek asli Papua

Kekayaan Anggrek Indonesia

Pada tahun 2021, terdapat riset kolaborasi lintas Organisasi/Kementerian untuk merekapitulasi jumlah spesies tumbuhan yang ada di Indonesia dan dilakukan update secara berkala ke dalam website https://www.indonesiaplants.org. Tim tersebut terdiri dari 10 orang dari berbagai organisasi dengan latar kepakaran taksonomi yang berbeda. Para taksonom tersebut antara lain yaitu: Wendy A. Mustaqim (Universitas Samudra); Reza Saputra (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan); Dee D. Al Farishy & Alexander Tianara (Universitas Indonesia); Roland P.P. Ahmad (Wallacea Research Organization); Abdulrokhman Kartonegoro (Pusat Penelitian Biologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional); Andre Ronaldo (Yayasan Palung); Bina S. Sitepu (Herbarium Wanariset, Balitbang Teknologi KSDA, KLHK); Agusti Randi (The Natural Kapital Indonesia Foundation); Wisnu H. Ardi (Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan, Badan Riset dan Inovasi Nasional). Sampai dengan saat ini, riset kolaborasi lintas Organisasi/Kementerian ini mencatat sebanyak 22.653 jenis tumbuhan yang tegolong ke dalam 225 famili terdapat di Indonesia. Angka tersebut melebihi Malaysia (sekitar 15.000 jenis) dan Filipina (sekitar 10.000 jenis). Famili dengan jumlah anggota terbanyak adalah famili anggrek atau Orchidaceae. Tercatat tidak kurang dari 3.825 spesies anggrek asli Indonesia hidup di ekosistem alami Indonesia (Mustaqim et al. 2021). Namun jumlah tersebut masih dapat bertambah ketika terdapat penemuan spesies baru (new species) atau penemuan spesies dengan distribusi baru (new record) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, pulau dengan jumlah spesies anggrek terbanyak adalah Papua. Pada Pulau Papua bagian Indonesia (Provinsi Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan), terdapat sebanyak 1.418 spesies anggrek. Jumlah tersebut sekitar 37% dari total anggrek yang ada di Indonesia. Tentu saja, keanekaragaman anggrek yang Indonesia punya ini menjadi potensi yang tak ternilai untuk masa depan. Saat ini, anggrek diketahui dapat dimanfaatkan sebagai sumber obat, pangan, sandang, penyedap rasa, pewarna, senjata, ornamental, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator (Hinsley, et al. 2018). Namun sebagian besar potensi pemanfaatan anggrek Indonesia belum banyak tergali. Hal tersebut harus menjadi perhatian untuk generasi muda agar dapat menjadi bagian dari solusi dalam menyelesaikan tantangan di masa depan.

Kebangkitan Explorer Muda

Kegiatan eksplorasi kekayaan biodiversitas di kawasan konservasi, seperti yang dilakukan Reza Saputra dan tim peneliti yang akhirnya menemukan empat species anggrek baru di Papua Barat, tersebut, ternyata semakin menyadarkan kita bahwa kegiatan ini layak dilanjutkan dan didukung pendanaannya dari sumber APBN di Balai Besar KSDA Papua Barat dan di seluruh UPT Ditjen KSDAE. Hal tersebut juga telah dibuktikan dengan eksplorasi di CA Gunung Nyiut di Kalimantan Barat oleh Tim Balai KSDA Kalimantan Barat bekerjasama dengan Tim Peniliti Fakultas Kehutanan dan Fakultas Biologi Universitas Tanjungpura serta Tim Baraka Bumi, telah menemukan Katak Pelangi (Ansonia latidisca sp), atau Sambas stream toad, Famili Bufonidae, Genus Ansonia, yang telah 98 tahun dinyatakan tidak ditemukan lagi. Oleh karena itu, Kerjasama dengan BRIN, pakar dari Universitas setempat, pakar dari Kebun Raya, dengan Ditjen KSDAE menjadi suatu keniscayaan.

Penemuan Reza Saputra dan ekspedisi Katak Pelangi tersebut cukup menjadi alasan yang kuat untuk segera melaksanakan kerjasama tersebut secara lebih sistematis dan strategis. Upaya kerjasama itu seperti membangkitkan kembali semangat eksplorasi yang di era Abad 18 telah dilakukan oleh SH.Koorders, Alfred Russel Wallace, van Steenis, dan di kemudian hari dilakukan oleh peneliti dari Museum Bogoriense, Kebun Raya Bogor, LIPI, dan para pakar/peneliti dari Universtas-universitas  terkemuka di seluruh Indonesia. Selamat datang explorer dan penjelajah alam liar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Reza Saputra telah memulainya dan menjadi contoh untuk  staf fungsional di Taman Nasional dan Balai KSDA di seluruh tanah air.***

Reza Saputra sedang tengah mendokumen-tasikan dan menghitung populasi anggrek langka dan terancam punah Paphiopedilum papuanum di habitat aslinya di batuan jurang/tebing karst yang curam. Gambaran pekerjaan Pengendali Ekosistem Hutan yang sedang menyelamatkan spesies terancam punah dengan resiko tinggi, di tebing curam berbahaya yang sewaktu-waktu dapat longsor atau terpeleset (BBKSDA, 2023)

Ucapan Terima Kasih dan Penghargaan:

Terima kasih yang tidak terhingga untuk Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sekretaris Jenderal KLHK, dan Dirjen KSDAE, atas dorongan dan bimbingan kepada staf di BBKSDA Papua Barat dalam mengeksplorasi kekayaan keragaman hayati di wilayah kerjanya. Terima kasih dan penghargaan ditujukan kepada  para Kepala Balai Besar Papua Barat : Drs. Trisnu Danisworo, M.S (2007-2009); Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc (2009-2013); Ir. Agung Setyabudi, M.Sc (2013-2016); Ir. R. Basar Manullang, MM (2017-2020); Budi Mulyanto, S.pd., M.Si, Plt Kababes (2020-2022; saat ini sebagai Kepala Balai TN Kelimutu) dan Johny Santoso, S.Hut, M. Agr (2022-sekarang),  yang telah konsisten menjaga kawasan konservasi dan terus mendorong stafnya melakukan inventarisasi/eksplorasi flora dan fauna serta kelestarian habitatnya.  Kekayaan flora dan fauna di tanah air kita sungguh luar biasa. Dunia mengakui Indonesia sebagai Negara Megabiodiversity. Jakarta,

Penghargaan kepada Sdr Reza Saputra, S.Si alumni Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia. Menjadi ASN sejak Maret 2018; Golongan IIIb; Penata Muda Tingkat I; Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama; e-mail: reza.saputraa21@gmail.com; nomor HP: 082213137002.

Daftar Pustaka

Cámara-Leret et al. 2020. New Guinea has the world’s richest island flora. https://doi.org/10.1038/s41586-020-2549-5

Chase, M.W., K.M. Cameron, J.V. Freudenstein, AM. Pridgeon, G. Salazar, C. van den Berg & A. Schuiteman. 2015. An updated classification of Orchidaceae. Botanical Journal of the Linnean Society 177: 151—174.

de Vogel, E., J.J. Vermeulen & A. Schuiteman. 2018. Orchids of New Guinea. Seminar, International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy (ICBE) 2018, Manokwari.

de Vogel, E.F, J.J. Vermeulen & A. Schuiteman. 2020. Orchids of New Guinea. Available from http://www.orchidsnewguinea.com.

Davies, H.L. 2012. The geology of New Guinea – the cordilleran margin of the Australian continent. Episodes 35(1), 87-102

Hinsley, A., De Boer, H. J., Fay, M. F., Gale, S. W., Gardiner, L. M., Gunasekara, R. S., … & Phelps, J. (2018). A review of the trade in orchids and its implications for conservation. Botanical Journal of the Linnean Society, 186(4), 435-455. https://doi.org/10.1093/botlinnean/box083

Kartawinata, K., 2010. Dua Abad Mengungkap Kekayaan Flora dan Ekosistem Indonesia. Pidato pada Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture X, LIPI, 23 Agustus 2010, Jakarta

Kartawinata, K., 2013. Diversitas Ekosistem Alami Indonesia. Ungkapa Singkat dengan Sajian Foto dan Gambar. LIPI. Yayasan Obor. Jakarta.

Mustaqim, W.A., R. Saputra, D.D. Al Farishy, A. Tianara, R.P.P Ahmad, A. Kartonegoro, Y.R. Yudistira, B.S. Sitepu, A. Randi & W. H. Ardi. 2021 onwards. Digital Flora of Indonesia. www.indonesiaplants.org

Ormerod, P. 2014. Papuasian Orchid Studies 4. Malesian Orchid Journal 13: 37–68.

Saputra, R., D.D.A. Farishy, D. Suratman. 2019. Orchids of Sorong Nature Recreation Park. Balai Besar KSDA Papua Barat, Sorong: 143 hlm.

Saputra, R. 2020. Kawasan Konservasi di Papua Barat dan Sekilas Tumbuhan Endemik (Anggrek) pada Region Papuasia. Webinar Ruang Bercerita Konservasi (Rubrik)

Schuiteman, A. & de Vogel, E.F. (2007) Orchidaceae of Papua. The ecology of Papua (ed. by A.J. Marshall and B.M. Beehler), Periplus, Singapore. pp. 435–456.

Schuiteman, A. 2013. A guide to Dendrobium of New Guinea. Natural History Publication Sdn. Bhd. Borneo.

Vollering, J., A. Schuiteman, E.F. de Vogel, R. van Vugt, and N. Raes. 2016. Phytogeography of New Guinean orchids: Patterns of species richness and turnover. Journal of Biogeography. 43: 204–214.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *