Komunitas Wana Paksi

Jatimulyo

Kalau kita menuju Kabupaten Kulon Progo di Bulan Maret, kita akan menyaksikan hamparan hutan rakyat yang didominasi pepohonan jati yang sedang berbunga menguning sangat indah. Apabila kita mendekat, kita akan menyaksikan sistem wana tani, bercampur antara jati, sengon, mahoni, sonokeling, sonokembang, kaliandra bunga merah, sangat rapat dengan di bawah tegakan itu tumbuh sumber empon-empon yang menjadi ekonomi warga.

Kelik, seorang pemuda yang tumbuh di Desa Jatimulyo, menceritakan tentang perubahan penggunaan lahan dari sawah tadah hujan di tahun 1970 menjadi kebun kopi, dan akhirnya kini berubah menjadi wana tani yang sangat beragam tetumbuhannya yang memberikan nilai ekonomi sangat layak. Kita bisa menyaksikan rumah-rumahnya yang kokoh modern tanpa meninggalkan keunikan arsitektur Jawa-nya. Jalan aspal hotmix yang mulus mengular di seluruh pelosok desa-desa di Kabupaten Kulon Progo ini telah memberikan nilai tambah ekonomi dan lahirnya desa-desa wisata yang luar biasa.

Wana Paksi                       

Wana Paksi adalah perkumpulan pemuda yang peduli pada burung. Sebelum tahun 2014, banyak sekali pemburu burung di kalangan pemuda di Desa Jatimulyo. Setelah disepakati, melalui proses selama kurang lebih satu tahun, akhirnya dilahirkan Peraturan Desa Nomor 8 Tahun 2014 yang salah satu isinya adalah bahwa secara bertahap hidupan liar khususnya burung dapat mulai dilindungi. Binatang itu sepertinya memiliki kesadaran. Mereka tahu Desa Jatmulyo sekarang bebas dari perburuan, maka menclok-lah mereka di berbagai pepohonan dengan rasa aman. Kata Mas Kelik, saat ini sudah ada lebih dari 100 jenis burung yang meramaikan suasana pedesaan nan adem itu. Komunitas Wana Paksi ini semakin menjadi daya tarik seperti medan magnet baru, sehingga mulai berdatangan para mahasiswa yang melakukan penelitian, anak-anak sekolah, tamu-tamu volunteer Yayasan Konservasi Alam Yogya yang umumnya volunteer berbayar dari luar negeri juga berkunjung ke Jatimulyo, terutama berpusat di Kopi Sulingan yang dikelola Mas Kelik. Saat ini sedang dikembangkan juga ternak madu dan taman bacaan untuk anak-anak.

Menarik mengamati perkembangan kesadaran yang tumbuh dimulai dari personal awareness dan secara perlahan mampu membangun small group awareness dan akhirnya semakin membesar menjadi community awareness.  Menjadi  suatu gerakan bersama, gerakan kolektif. Dalam Theory U, yang ditemukan dan dikembangkan oleh Otto C Scharmer (2007), di MIT Boston, model gerakan ini disebut sebagai Awareness Based Collective Action. Suatu cara baru membangun aksi kolektif yang by design.  Didasari dari suatu kesadaran (awareness), bukan sekedar karena adanya proyek. Bekerja dengan kesadaran adalah bekerja dengan tiga prinsip, yaitu : (1) bekerja dengan senang atau gembira (enjoyment), (2) bekerja dengan antusias (enthuiasm), penuh semangat, passion, penuh daya; dan (3) bekerja dengan sikap penerimaan total (acceptance) atau ikhlas. Demikian kata guru spiritual Eckhart Tolle (2005).

Gerakan bersama itu dapat dikatakan sebagai kemenangan bersama gerakan penyelamatan lingkungan. Dalam kumpulan tulisannya di 2018, Emha Ainun Nadjib  mengatakan bahwa kemenangan autentik terletak pada kemauan, kerelaan, dan kemantapan untuk menjadi diri sendiri.

Prinsip “5K”

Membedah  laku penggerak Wana Paksi dan banyak komunitas lain seperti: Kang Dayat di Gerakan Bersih mandiri Ciliwung (saya interview di 8 Maret 2020 di Senggigi). Ada juga Pak Sabran yang membangun kesadaran masyarakat berhenti dari illegal logging di Sebangau jauh di tahun 2002, sebelum akhirnya menjadi Taman Nasional Sebangau di tahun 2004. Pak Sabran saya temui dalam keadaan berduka dua hari setelah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa anak mantunya, Pak Abdi, seorang Polhut TN Sebangau yang tangguh. Selanjutnya sosok Wak Yun di Tangkahan. Di era sekitar tahun 1997 atau 1998, dia menemukan ‘surga dunia’ di pinggir TN Gunung Leuser yang menanjak reputasinya mulai 2002 sampai dengan saat ini – juga mengubah laku merusak alam menjadi penjaga, pelestari dan pemanfaat alam yang bijaksana. Selanjutnya ada penggerak Hutan Kemasyarakatan (Hkm) Kalibiru – Kulon Progo sejak tahun 2013, yang akhirnya berkembang menjadi wisata selfie sampai dengan saat ini. Ini hanya beberapa contoh saja dari sekian ratus figur yang sering saya sebut sebagai local champion, local hero. Pak Padmo, yang dalam tiga tahun dapat mendorong gerakan ekologis dan ekonomi kerakyatan berbasis keunggulan ekologi di sebagian besar dari 64 desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai.  

Saya mengajukan suatu pisau analisis untuk memahami lahirnya local champion dan tumbuh kembangnya komunitas pelestari lingkungan seperti itu, dengan mengajukan suatu gagasan bahwa mereka hampir pasti menerapkan sikap mental yang saya sebut sebagai “5K”, yaitu sikap dan laku: (1) kepedulian, (2) kepeloporan, (3) keberpihakan, (4) konsistensi, dan (5) kepemimpinan. Sikap peduli pasti tumbuh dari hati nuraninya tentang suatu hal. Di Jatimulyo, persoalan nasib burung yang ditembaki oleh para pemuda yang sering kali tanpa alasan. Dengan bekal sikap peduli itu, ia akan mulai merancang, mengawali, memelopori suatu langkah awal dan terus-menerus sampai tercapai apa yang telah ia impikan. Ia-lah sang pelopor itu, melakukan perubahan dari awal, dan pastinya penuh dengan kerikil dan cobaan. Yang ketiga adalah sikap mental untuk berpihak. Berpihak pada penghuni alam, juga kondisi alamnya. Suatu sikap yang langka kita temukan di tengah-tengah banyak orang mengejar materialisme di dunia  yang sudah menggila yang disebut oleh Emha sebagai Mad-Soc (Najib, 2018).

Sikap keempat, mereka yang memiliki ketiga sikap tersebut di atas pasti penuh dengan Istiqomah, selalu konsisten dan persisten dalam mendorong gelombang perubahan yang diyakininya sebagai suatu kebenaran dan pilihan hidupnya. Situasi ini sering kali saya sebut bahwa ia telah  personal calling-nya. Istilah yang disampaikan oleh Setyo Hajar Dewantoro dalam bukunya ‘Suwung’ (2017), halaman 274, adalah perlunya kita menyelami relung jiwa untuk berhubungan dengan Sang Guru Sejati dan menemukan visi terindah  untuk kehidupan pribadi.  Selanjutnya sering-seringlah tenggelam dalam keheningan agar terpancar vibrasi yang menarik energi tertinggi semesta untuk merealisasikan visi terindah itu. Dalam Theory U, hal ini disebut sebagai connecting to universal intelligent. Dan akhirnya, keempat laku tersebut di atas memberi bekal penting dan akan membentuknya menjadi seorang pemimpin. Seorang leader dalam kelompok dan komunitasnya. Bekal bagi seorang pemimpin menurut filosofi Jawa, adalah dengan laku Hasta Brata, ditemukan oleh Ranggawarsita-pujangga terakhir Kraton Solo (Wiratno, 2004) dan laku dari ajaran Ki Hajar Dewantara – ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani”

Sikap Birokrasi

Aparat Sipil Negara harus mampu mendeteksi, menemukenali vibrasi atau frekuensi dari para local champion tersebut, untuk selanjutnya memfasilitasi, mengawal, dan mendorong mereka ke dalam garis edar yang lebih besar dalam bangun network multipihak, multidisiplner dan multilevel. Inilah sebenarnya yang diperlukan dalam melakukan reformasi di jajaran birokrasi pemerintah. Dan menemukan vibrasi tersebut hanya dapat dilakukan ketika kita turun ke lapangan yang disebut sebagai proses seeing dan sensing. Sensing adalah seeing from your heart. Akhirnya, inilah jawaban mengapa mengurus hutan, lautan, dalam berbagai macam fungsinya, harus sering ke lapangan. Agar kita menemukan fakta-fakta riil tentang problem atau potensi-potensi yang dapat dikembangkan. Juga sangat penting untuk mengetahui hubungan-hubungan (sosio-budaya, sejarah, spiritual) antara masyarakat dengan sumber daya hutan di sekitarnya. Dalam ilmu kehutanan di kampus, penguasaan lapangan ini disebut sebagai kapasitas untuk ‘memangku’ kawasan hutan.*** 

Rujukan:

Najib, E Ainun, 2018. Pemimpin yang “Tuhan”. Penerbit Bentang. Yogyakarta.

Dewantoro, S Hajar. 2017. Suwung. Ajaran Rahasia Leluhur Jawa. Javanica

Wiratno. 2004. Nakhoda – Leadership dalam Organisasi Konservasi. Conservation International Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *