Hari Hidupan Liar Sedunia 2023

Satu-satunya sejarawan konservasi alam, yang baru saja meninggalkan kita selama-lamanya, Kang Pandji Yudistira KS, dalam bukunya berjudul “Sketsa Sejarah Konservasi Alam di Indonesia (PIKA, 2020) menyampaikan sebuah keprihatinan tentang ekspor bulu burung cenderawasih dari Makassar ke Eropa dan Amerika:  tahun 1914 (71.932 ekor), tahun 1915 (75.168 ekor), tahun 1916 (89.365 ekor), tahun 1917 (53.637 ekor), dan tahun 1919 (33.575 ekor). Total selama lima tahun itu ada 323.677 ekor burung cenderawasih yang dijual ke luar negeri.  Abad ke-19 merupakan “era kegelapan” kelestarian spesies karena antropogenic  factor.

Elizabeth Kolber yang menulis artikel berjudul ‘Civilization and Extinction’ dalam The Climate Book (Greta Thunberg  2022),  menyatakan, “Most species alive today have persisted through , multiple ice ages; clearly they were able to survive colder global temperatures. Whether they can handle warmers ones, though, is unclear.  Masa depan spesies dalam menyesuaikan diri untuk survive di era suhu bumi yang semakin panas, menjadi tema riset penting di seluruh dunia. Dampaknya tentu juga pada pola pertanian, gagal panen, dan ketersediaan pangan di seluruh dunia.

Root Causes

Penyebab utama perubahan iklim pasca revolusi industri 1850 adalah anthropogenic factor. Ini fakta yang tidak terbantahkan:

In the Intergovernmental Panel on Climate Changes (IPCC) 2022 report a group of 234 scientists from 66 countries concluded that it is unequivocal that human influence has warmed the athmosphere, ocean, and land. Widespread and rapid changes in the atmosphere, ocean, cryosphere and biosphere have occured.  Average global temperatures have risen approximately 1.2 °C since the pre-industrial age. Based on current policies, the IPCC estimates that global warming will reach 3.2°C by 20100 TThunberg, 2022).  Some countries vastly more historically responsible for emission than others; the largest emitters released of CO2 into the atmosphere between 1850 and 2021.  US (420.0 GtCO2), China (241.8 GtCO2), Rusia (137.3 GtCO2), Germany (93.3 GtCO2), UK (74.9GtCO2), Japan (66.7 GtCO2), India (57.1 GtCO2), France (38.5 GtCO2), Canada (34.2 GtCO2), Ukraina (30.0 GtCO2).

Diskusi

Masa depan kelestarian satwa liar, sangat bergantung pada seberapa jauh penguasaan kita akan dampak root causes, terhadap perubahan perilaku (mencari makan, kawin, pola kelahiran, bertahan di cuaca ekstrem), dan berbagai aspek lainnya. Root causes tersebut antara lain: (1) fragmentasi habitat, hilangnya habitat, (2) terbukanya akses ke dalam habitat alami, (3) perubahan pola klimatologi/cuaca/suhu  yang cenderung unpredictable, berdampak pada pola pergerakan satwa, perubahan perilaku, terganggu atau bahkan terputusnya rantai makanan, gagal panen, (4) perburuan dan perdagangan satwa liar. Box 1 di bawah ini ulasan tentang dampak dari perubahan iklim/suhu pada satwa di Kutub Utara. Ini sudah menjadi fakta yang tidak dapat dibantah. Ini adalah evidence based, bukan hoax.

Box 1 : KOMPAS.com – Kutub Utara memanas dua kali lebih cepat dari tempat lain di Bumi. Dampaknya, satwa-satwa liar yang tinggal di sana pun mulai mengalami perubahan perilaku. Hewan-hewan seperti karibu, elang emas, beruang grizzly, dan paus diketahui mulai menyesuaikan diri untuk mengatasi efek yang ditimbulkan oleh perubahan iklim itu. Seperti dikutip dari Smithsonian, Senin (16/11/2020) untuk mempelajari bagaimana perubahan itu, lebih dari 100 ilmuwan dari 17 negara bekerja sama dan mendirikan Arctic Animal Movement Archive (AAMA). Mereka mengumpulkan data individual hewan menjadi arsip yang sangat besar. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kutub Utara Menghangat, Perilaku Satwa Liar Mulai Berubah.

Mereka mengumpulkan data individual hewan menjadi arsip yang sangat besar. Kumpulan data yang komprehensif ini secara keseluruhan melacak bagaimana 96 spesies berbeda telah berpindah melintasi Arktik selama 28 tahun terakhir. Baca juga: “Pecahkan Rekor, Suhu Siberia Terpanas Sepanjang Sejarah Kutub Utara”.  Data skala besar dan jangka panjang tersebut juga dapat mengungkapkan pola perilaku hewan selama beberapa dekade. Elie Gurarie, ahli ekologi di University of Maryland bersama rekan-rekannya pun akhirnya menemukan bahwa ada perubahan perilaku pada beberapa hewan. Ia menyebut kawanan karibu atau spesies rusa kutub, paling utara melahirkan lebih awal dari biasanya. Secara teori jika bayi-bayi lahir lebih awal, maka mereka dapat menikmati musim panas yang lebih lama untuk diberi makan.

Peringatan Hari Satwa Liar Sedunia tanggal 3 Maret 2023, menjadi momentum untuk memperluas cakrawala analisis,  terkait dengan perubahan suku akibat perubahan iklim, yang telah terbukti di Kutub Utara. Bagaimana dengan situasi di negara-negara tropis, negara-negara kepulauan kecil? Bagaimana dengan peluang dikembangkannya biobank untuk satwa liar yang teknologinya saat ini telah tersedia?. Strategi full protection terhadap habitat satwa liar apakah dimungkinkan, replikasi dari pengelolaan TN Ujung Kulon dan Tambling Wildlife Sactuary. Dan masih sederet pertanyaan science yang perlu kita renungkan dan kita diskusikan dengan pendekatan pentahelix, mungkin, karena memang upaya ini memerlukan dukungan para pihak.

Optimis

Optimisme muncul dari India, dimana hasil dari 13 tahun monitoring (2004-2014) di Corbett Tiger Reserve, dicatat kepadatan meningkat dari 2,08 harimau/100 kilometer persegi ke 7,07 harimau/100 kilometer persegi, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,5% (Abishek Hariha, et al., 2020). Mampukan Indonesia mengikuti India dalam upaya pelestarian harimau sumatera?

Bertambahnya populasi elang jawa (Nizaetus bartelsi), masuk Appedix II CITES, yang ditemukan juga populasi kecil di ‘Pulau Dewata’) juga merupakan indikasi keberhasilan peranan arus bawah, ada yang menyebut sebagai citizen science– dari Kelompok Kerja Pelestarian Elang Jawa (KKPEJ) dan menjadi Raptor Indonesia, aktif melakukan penelitian dan pemantauan di seluruh habitat dan habitat baru elang jawa. Populasi pada 1995 sekitar 216 (Rezit Sozer) dan 250 (IUCN). Pada tahun 2021 mencapai 1.437. Kondisi tahun 2010 terdapat 62 kantung populasi, dan di tahun 2020 menjadi 69 kantung populasi di kawasan seluas 10.910 km2 atau 1,091 juta hektare (komunikasi pribadi dengan Zaini Rahman, 2 Maret 2023).

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah jenis satwa langka yang masuk ke dalam 25 spesies prioritas utama konservasi Pemerintah Indonesia. IUCN memasukkan spesies Badak Jawa ke dalam status Critically Endangered dan CITES mengategorikannya ke dalam Appendix I. Balai Taman Nasional Ujung Kulon sepanjang tahun 2021  mencatatkan kelahiran 4 ekor anak badak jawa. Anak badak jawa pertama dengan jenis kelamin betina (ID.083.2021) mulai terekam video kamera trap pada tanggal 18 Maret 2021 dari induk bernama Ambu (ID.023.2011). Kelahiran ini merupakan yang kedua bagi induk badak Ambu setelah tercatat sebelumnya melahirkan pada tahun 2017.

Anak badak jawa kedua berjenis kelamin jantan (ID.084.2021) diperkirakan sudah berusia 1 tahun yang mulai terekam pada 27 Maret 2021 bersama induknya bernama Palasari (ID.008.2011). Sementara anak Badak Jawa ketiga berjenis kelamin jantan (ID.085.2021), perkiraan usia 3-4 bulan mulai terekam pada 12 April 2021 bersama induknya bernama Rimbani (ID.051.2012) dan merupakan kelahiran pertama kali. Rimbani merupakan anak dari induk yang bernama Ratih (ID.024.2011). Anak badak jawa keempat berjenis kelamin betina (ID.086.2021) dengan perkiraan usia 1 tahun terekam pada 9 Juni 2021 bersama induknya yang bernama Kasih (ID.032.2011). Kelahiran ini merupakan yang ketiga bagi induk Kasih setelah tercatat kelahiran sebelumnya.

Selamat merayakan Hari Satwa Liar Sedunia 3 Maret 2023 dengan optimisme yang terus dijaga dan dirawat.***

Rujukan

Abishek Hariha, Bivash Pandav, Mousumi Ghosh-Harihar, John Goodrich, 2020. Demographic and ecological correlates of a recovering tiger (Panthera tigris) population: Lessons learnt from 13-years of monitoring. Biological Conservation 252 (2020) 108848.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/11/16/200400123/kutub-utara-menghangat-perilaku-satwa-liar-mulai-berubah.

Thunberg, G., 2022. The Climate Book. Allen Lane. In imprint of Penguin Books. Yudistira, P.KS., 2020. Sketsa Sejarah Konservasi Alam di Indonesia. Direktorat Pemolaan dan Konservasi Alam. Ditjen Konservasi  Sumberdaya Alam dan Ekosistem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *