Berbincang dengan Erni Suyanti Musabine, Pejuang Satwa Liar

Dialog dengan ASN yang bekerja di lapangan selalu menarik dan bahkan menggugah hati kita tentang banyak hal. Pada tanggal 17 September 2026, saya kedatangan Erni Suyanti, seorang dokter hewan yang telah bekerja selama lebih dari 22 tahun, dimana sebagian besar waktunya keluar masuk hutan mengurus-menyelamatkan para satwa liar dari sakit, cacat, dan kematian. Kita nikmati penuturannya.
Mbak Yanti, bisa sedikit dibagi pengalaman awal mulai bekerja di Balai KSDA Bengkulu, sebagai dokter hewan?
Dulu saat saya diberi honor 150 ribu per bulan, di daerah perantauan di Bengkulu, tidak punya keluarga disana, hidup nge-kost. Alhamdulillah bisa survive hanya dengan modal niat tulus untuk menolong satwa liar di habitat alam, rezeki halal bisa datang dari mana saja. Mencari biaya sendiri untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan dan skill yang mendukung pekerjaan baik di dalam maupun di luar negeri. menanamkan jiwa relawan dan kemandirian serta kreatif dan inovatif pada diri sendiri dalam bekerja di saat fasilitas penunjang terbatas. Di saat itu pula konsistensi saya diuji dengan adanya tawaran dari beberapa NGO yang bekerja untuk konservasi satwa liar seperti BOSF Wanariset, SOCP, FZS, PIWEC, dan NGO lainnya yang bergerak di konservasi gajah di Sumatra Utara. Bahkan tawaran dari Vietnam Bear Rescue Centre di Tam Dao National Park. Apakah tawaran-tawaran yang menggiurkan itu ditolak? Saya menolak untuk bekerja penuh, namun jika membantu saja tidak ada masalah. Saya dulu juga pernah membantu FZS, SOCP ketika dibutuhkan untuk orangutan.

Apa momen titik terendah yang pernah dialami?
Pertama, ketika sedang menangani atau merawat sementara satwa liar (tentu satwa yang menjadi prioritas nasional untuk dilindungi), yang menjadi korban konflik dan perburuan liar dan tidak banyak mendapat dukungan dari otoritas maupun pihak lain. Saya merasa sendirian yang harus bertanggungjawab terhadap keselamatan satwa tersebut. Titik terendah saat tidak punya jalan keluar apapun, saat ditolak oleh banyak pihak yang diharapkan bisa membantu, bahkan dana pribadi pun kadang harus dibagi untuk menyelamatkan (menyambung hidup) satwa tersebut sampai tidak tersisa. Di saat pasrah diri, tidak punya solusi, biasanya ketika terpuruk seperti itu, tanpa disangka-sangka jalan keluar datang. Selalu seperti itu, asal masih tetap terus berusaha tanpa pantang menyerah, dan yakin pasti akan ada solusi, maka jalan keluar akan datang tiba-tiba tepat pada waktunya. Itu yang saya rasakan selama ini. Kedua, suatu ketika, dedikasi dan pengorbanan untuk menyelamatkan habitat/kawasan hutan dan satwa liar yang ada di dalamnya dibalas dengan sanksi administratif yang subyektif dan tidak bisa dilawan. Ketiga, di saat teman-teman seperjuangan di tingkat tapak, satu tim, ada yang gugur dalam bertugas di dalam hutan dan di depan mata dan saya tidak bisa berbuat banyak.

Apa saja penghargaan yang telah mbak Yanti terima?
Beberapa penghargaan yang pernah saya terima antara lain: (1) Lifetime Achievement Award dari Orangufriends, Center for Orangutan Protection 2014 – Penghargaan atas Komitmen dan Dedikasi bertahun-tahun dalam Perlidungan Satwa Liar, (2) Penghargaan Perempuan Inspiratif Nova dari Tabloid Nova 2016; (3) Penghargaan Perempuan Inspiratif Bengkulu 2017; (4) Penghargaan Kick Andy Hero Award dari Kick Andy Metro TV 2017, (5) Penghargaan Dirjen KSDAE Kementerian LHK atas Jasa dan Pengabdian Konservasi Harimau Sumatera dan Satwa Liar yang Terancam Punah di Indonesia sejak 2002 pada Hari Konservasi Alam Nasional 2020, (6) Penerima Anugerah Perempuan Hebat Indonesia 2021 dari Liputan 6.com pada Peringatan Hari Kartini 2021; (7) Penghargaan Menteri LHK sebagai Terbaik Kedua Lomba Video dan Foto Virtual Petualang Alam Indonesia 2020; (8) Vet Inspiration Award 2025; (8) Penghargaan atas Inspirasi di Bidang Kedokteran Hewan dan Penyelamatan Satwa Liar, (9) PDHI Award 2025 – Penghargaan dalam Kategori Konservasi dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia; (10) Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) langsung dari Badan Kepegawaian Negara 2026, diberikan atas Kinerja, Kontribusi, dan Pengabdiannya dalam Penyelamatan dan Merawat Satwa Liar Korban Jeratan di Kawasan Hutan.

Ada impian yang masih akan dicapai ke depan?
Saya mau menulis buku tentang pengalaman mengurus satwa liar lebih dari 22 tahun ini agar bisa menginspirasi dan memberi semangat kerja terutama untuk teman-teman dokter hewan di Kementerian Kehutanan. Bekerja dengan hati itu yang saya rasakan sangat membantu dan pertolongan dan bantuan datang dari sumber yang tidak terduga.***

Tinggalkan Balasan