Leadership di Era Digital

Dalam refleksi akhir tahun 2021, dan menjelang saya purna tugas sebagai Dirjen KSDAE sejak 17 Juni 2017, saya kembali menyampaikan tentang hal-hal mendasar yang diperlukan untuk membangun, memupuk, dan mengembangkan kapasitas “leadership”. Leadership yang adaptif tetapi tetap memiliki kredibilitas. Terutama bagi mereka yang bekerja mengurus kawasan konservasi di Indonesia. Beberapa hal yang menurut saya perlu diasah oleh seorang (calon) pemimpin lapangan, dengan persistensi dalam bekerja di tingkat lapangan dan mengawal isu-isu strategis di tingkat nasional dan global, adalah seperti yang saya usulkan di bawah ini:

Be Humble & Smart

Sikap mental humble atau santun adalah perilaku seorang pemimpin yang selalu menyadari bahwa dirinya hanya bagian dari suatu sistem alam dan sistem sosial (geologi, ekologi, sosial, ekonomi, politik) di era digital yang lebih besar, kompleks, dinamis, dan unpredictable. Oleh karena itu diperlukan seorang pemimpin yang cukup dan selalu santun untuk mampu memahami hal tersebut. Dalam perspektif Jawa, ini sebenarnya yang disebut sebagai “ilmu padi”, semakin tua semakin merunduk, rendah hati bukan rendah diri. Menyadari ilmunya hanya terbatas dan kebenaran itu relatif. Dan sangat terbuka kemungkinan ditemukannya fakta menuju kebenaran baru. Hal ini terus berulang sepanjang sejarah manusia.  Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki modal dasar “kejujuran”, yaitu jujur akan semua keterbatasan yang dimilikinya untuk mampu memahami dan akhirnya menerima fakta dan realitas baru, setiap hari setiap saat. 

Untuk memiliki sikap jujur seorang pemimpin perlu secara terus menerus melakukan dialog ke dalam dirinya sendiri. Dialog antara ego dan kesadaran. Diperlukan ilmu psikologi kepribadian untuk menjelaskan makna “ego” dan “kesadaran” itu apa? Dimana letaknya dalam diri manusia? Sikap santun dan jujur merupakan modalitas mendasar dan penting untuk menuju sikap mental berikut:

  1. Sense of Scientific Temper

Kesantunan akan membawa penjelajahan (personal journey) dari seorang pemimpin untuk selalu berusaha memelihara-memupuk ketajaman dan kepekaan rasa ingin tahu (curiosity) di balik setiap peristiwa, fenomena alam, dan persoalan yang dihadapinya. Dikembangkan untuk mencari “kebenaran sejati” berdasarkan the best science yang ada saat ini.  Sikap scientific temper yang ditemukan dan dipopulerkan oleh pak Wahjudi Wardojo ini dilambari dengan situasi psikologi antara lain: 1) menyadari atau memiliki kesadaran kritis akan keterbatasan ilmu dan pengalaman   yang dimiliki untuk mampu memahami kompleksitas realitas atau fakta; 2) memiliki willingnes untuk bersikap open mind, yang diikuti dengan rajin membaca buku, jurnal ilmiah, artikel, sehingga selalu update terhadap temuan-temuan baru yang mungkin lebih sahih.  Selanjutnya secara bertahap mendorong sikap mentalnya yang open heart menghadapi berbagai persoalan, fenomena alam, tantangan, ancaman, dan kesempatan dengan pisau analisis “rasa” dengan menggunakan hatinya; 3) menemukan atau menemukenali blind spot dalam proses lakunya berhubungan dengan “the universal intelligent” dalam proses presencing, yang disebut proses open will, sehingga potensi solusi yang berada di masa depan (vision) dapat mulai dideteksi dan diprediksi akan dapat hadir dalam genggaman tangan saat ini (the power of now).

Untuk selanjutnya dirancang suatu prototype atau role model. Sebagaimana diketahui Ditjen KSDAE saat ini sedang mengembangkannya bersama 74 UPT Ditjen KSDAE. Dalam Teori U, proses prototyping atau membangun model dilakukan sambil terus menerus melatih synchronizing antara head-heart-hand. Kumpulan prototype tersebut berupa buku dengan judul “100+ Inovasi Ditjen KSDAE” yang di-launching pada 28 Maret 2022 (Ditjen KSDAE, 2022).

  • Kepekaan terhadap “Realitas”

Scientific Temper menjadi modal utama untuk selalu mengasah indera keenam seorang pemimpin untuk selalu merusaha memahami dan menemukenali “pesan-pesan” tersembunyi (baca: invisible hand) dari setiap peristiwa atau rentetan peristiwa yang menjadi realitas atau “realitas” (catatan: realitas semu), baik yang dapat dilihat secara faktual di lapangan, langsung (seeing dan sensing), melalui laporan staf, media masa, medsos, dan sebagainya. Fakta-fakta yang nampak dapat digolongkan sebagai symptom (gejala-gejala) nya saja. Sedangkan core problem atau core solusinya jauh dari apa yang tersaji di peristiwa kasat mata tersebut.

Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara sympton dan core problem atau core solution. Kalau tidak mampu, akan menimbulkan solusi semu yang justru merugikan masyarakat dan kontra produktif. Menghukum masyarakat miskin yang karena kemiskinannya terpaksa merambah kawasan hutan hanya menyelesaikan symptom-nya saja. Sedangkan masalah kemiskinannya justru tidak tersentuh dengan solusi cerdas seperti apa. Maka ada program hutan sosial yang saat ini telah mencapai 4,9 juta hektare, dipercepat sejak 2015 dan kemitraan konservasi sejak 2018 yang telah menembus capaian 214.000 hektare, membantu akses kelola bagi sebagian dari 6.474 desa (yang didalamnya ada sekitar 16,5 juta jiwa) yang berbatasan dengan kawasan konservasi – termasuk masyarakat hukum adat di dalamnya. 

  • Medsos sebagai Tool bukan End

Pemimpin di era digital harus mampu menggunakan medsos sebagai tool untuk menyampaikan pesan konstruktif, pesan positif, pesan yang dapat memberikan publik menjadi lebih cerdas dalam memilih dan memilah konten medsos. Teknologi digital juga telah membantu Ditjen KSDAE dalam melakukan monitoring satwa, dengan memasang GPS collar pada gajah dan komodo serta memantaunya menggunakan smartphone. Suatu teknologi yang tidak mungkin dilakukan lima tahun yang lalu. Mengunggah berbagai kegiatan lapangan, pemantauan satwa liar, perkembangan status gunung api, seperti yang dilakukan Seksi Wilayah Lampung, Balai KSDA Bengkulu yang dapat diikuti melalui IG-nya: krakatau ca_cal; WhatsApp (WA) pemantauan kondisi gunung Merapi melalui WAG: Pecinta Merapi Harmonis, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi masyarakat, sejak Juni 2017 Ditjen KSDAE juga telah membuat Call Center di 74 UPT, sehingga masyarakat dapat melaporkan atau bertanya apa saja terkait dengan konservasi. Promosi hampir semua kegiatan yang dilakukan 74 UPT, termasuk informasi pembukaan dan penutupan jalur pendakian, konflik satwa, pendidikan lingkungan, juga telah diunggah terutama di Instagram dan YouTube masing-masing UPT. 

Sepuluh Official Instagram UPT Taman Nasional dengan pengikut terbanyak per 22 Oktober 2021

Grafik di atas menunjukkan sepuluh besar Balai (Besar) Taman Nasional dengan follower Instagram terbanyak. Era digital telah menunjukkan momentumnya yang tidak dapat dielakkan lagi. Sekarang atau tidak sama sekali. Model komunikasi publik dengan kecepatan detik. Era yang belum pernah terjadi sebelum sampai tiga besar aplikasi tiba di smartphone kita, yaitu:  YouTube, Instagram, dan WhatsApp.

Sepuluh Official Instagram UPT KSDA dengan pengikut terbanyak per 22 Oktober 2021.

Grafik di atas menunjukkan 4 besar dengan follower terbanyak, yaitu Riau, Jatim, DKI Jakarta, dan Aceh. Tentu hal ini terkait dengan konflik satwa, perdagangan satwa, laporan masyarakat yang merupakan menjadi tugas Balai KSDA di seluruh Indonesia. 

Model komunikasi publik dan edukasi publik dengan kecepatan yang tinggi tersebut harus menjadi bahan evaluasi tentang tingkat efektivitasnya terkait dalam membangun organizational branding. Organisasi pemerintah yang menjadi lebih terbuka, inklusif, yang akan meningkatkan partisipasi publik. Perkembangan yang sangat menarik untuk dianalisis, minimal dari tiga aspek: 1) organizational learning, 2) kapasitas leadership/manajerial, dan 3) kapasitas membangun adaptive planning dan manajemen (McDougall, et al., 2007).

Hanya “Satu” Bumi

Manusia modern dengan IPTEK-nya sampai dengan saat ini (baca: tahun 2022), belum mampu menemukan bukti-bukti yang kuat dan faktual, bahwa ditemukan planet seperti bumi yang memenuhi kelayakan untuk kehidupan ras manusia. Richard Dawkins dalam bukunya yang popular berjudul “The Magic of Reality – How We Know What’s Really True” (2012), mengatakan sebagai berikut, “The number of stars in our galaxy is about 100 billion and the number of galaxies in the universe is about the same again. That means something like 10,000 billion stars in total. About 10 per cent of known stars are described by astronomers as “sun like”. Stars that are very different from the sun, even if they have planets, are unlikely to support life on those planets for various reasons, stars that are much bigger than the sun tend not to last long before exploding (page: 189). Selanjutnya dinyatakan: “Although there are billions and billions of planets out there, we cannot expect more than a minority of them to be just right, where temperature and distance from their star are concerned”. (page: 91). 

Kesimpulannya hanya satu. Belum ada bukti-bukti ditemukannya planet layak huni seperti bumi kita ini, yang di 2045 akan menyangga kehidupan sebanyak 9,5 milyar manusia. Saya hanya ingin menekankan bahwa kita harus merubah cara hidup boros serta merubah lifestyle manusia sehingga sikap hemat dan cara eksploitasi sumber daya alam agar menuju green energy, mencegah kenaikan suhu bumi sesuai Paris Agreement tentang Perubahan Iklim, yang ditandatangani 171 negara pada 23 April 2016, adalah suatu keniscayaan. 

Pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran kritis seorang pemimpin tentang nasib bumi sebagai satu-satunya tempat hidup ras manusia, akan mewarnai dan mendasari bagaimana ia membangun visi jangka panjang penyelamatan dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab. Berbagai gerakan pemikiran dan perenungan telah dikemukakan dalam ragam discourse oleh para ahli dan pemerhati lingkungan, seperti konsep deep ecology oleh Arne Naess (1973); ekosofi oleh Prof Hadi S Alikodra (2021); dan ekoteologi oleh Muh. Arbaín Mahmud (2021).***

Daftar Rujukan

 Alikodra, H.S., 2021. Membumikan eko-sofi dalam Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. IPB Press.     

 Dawkins, R., 2012. The Magic of Reality. How We Know What’s Really True. Black Swan Edition. 

 Mahmud, M.A. 2021. Ekoteologi Moloku Kie Raha: Gagasan Kendali Ekosistem Hutan Maluku Utara. DeepPublish. 

 McDougall, C., R. Fisher, R. Prabhu. 2007. Adaptive Collaborative Management: A Conceptual Model. Center for International Forestry Research (CIFOR).  Wiratno, Tim KSDAE. 2021.. Menuju Digital Society: Masa Depan Ras ManusiaTransformasi Digital Konservasi Alam. Ditjen KSDAE.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *