Memori Organisasi
Ingatan manusia sangat terbatas, apalagi di era inflasi informasi di era digital saat ini dan ke depan. Namun demikian, ingatan manusia akan sangat terpatri lama ketika ia mengalami sendiri (experience based) tentang suatu peristiwa. Ini pula yang disebut sebagai tacit knowledge seseorang yang mengalami langsung suatu peristiwa. Kepeduliannya meningkat serta terbawa ke waktu mendatang yang sangat lama dan mengendap dalam memori otaknya yang sewaktu-waktu bisa di-recall ke permukaan kesadaran dan mempengaruhi pikiran, rasionalitas, tindakan dan bahkan pertimbangan bawah sadarnya. Bagaimana dengan suatu organisasi? Organisasi yang hidup karena digerakkan oleh manusia yang memiliki softskill dan keputusan-keputusan untuk organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi seperti kendaraan, yaitu alat, vehicle untuk mencapai tujuan dari sang sopir atau pilotnya.
Mengelola, menggerakkan organisasi pada intinya mengelola sumberdaya manusia. Yang berarti pula mengelola komunikasi antar manusia di dalamnya. Menggali potensi, menempatkannya di posisi sesuai dengan kompetensi, kebutuhan, dan prioritas organisasi untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati.
Dimana Memori Organisasi?
Secara formal, memori organisasi disimpan dalam perencanaan, laporan-laporan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Namun demikian, memori yang tercatat dalam laporan-laporan formal itu tidak cukup menggambarkan secara komprehensif capaian tujuan organisasi. Pengalaman penulis, memori dari laporan-laporan formal tersebut hanya 20-30% dari gambaran capaian tujuan organisasi. Sisanya, tersebar di tacit knowledge-nya staf kunci, mitra kunci, dan pemimpinnya.
Memori organisasi ini lebih rumit apabila itu berupa organisasi publik. Organisasi pemerintah yang mandatnya adalah mengurus lingkungan, hutan, konservasi alam, seperti Ditjen KSDAE, misalnya. Mengapa? Karena tidak semua output dari hasil kerja pengelolaannya dapat diukur secara langsung bernilai uang (monetary term). Banyak sekali hasil dari kerja perlindungan taman nasional, berupa udara bersih, tidak adanya kebakaran hutan, terjaganya tutupan vegetasi yang menghasilkan kesuburan tanah, terjaganya aliran air untuk air konsumsi dan air pertanian daerah produktif jauh di bawahnya, terjaganya satwa liar yang seolah-olah tidak memiliki nilai (ekonomi) bagi manusia, dan seterusnya. Sumber memori organisasi, selain dari dokumen “Memori Serah Terima Jabatan”, sebagai bacaan pertama, juga dapat ditemukan di sumber-sumber sebagai berikut:
- Buku dan Jurnal
Buku, baik yang berupa buku cetak dan buku elektronik sudah terbukti sebagai sumber memori suatu organisasi, dengan catatan pimpinan organisasi tersebut menuliskan (bukan hanya laporan keproyekan), hasil dari pengalaman menerapkan kebijakan dan dampaknya di tingkat lapangan apakah kebijakan tersebut di-‘rasa’-kan oleh masyarakat. Bahwa “change” atau adanya perubahan sebagai dampak positif dari kebijakan itu nyata dirasakan manfaatnya. Menuliskan pengalaman dalam bentuk buku itu akan “merawat memori” organisasi dan memori seluruh manusia yang bekerja dalam organisasi itu. Nilai penting dari experience based dan evidence based ini tidak ternilai, dan kemungkinan bahkan dapat menyumbangkan teori baru dalam kelola sumberdaya hutan dan perairan di tanah air.
Dalam masa 2001-2022 atau 21 tahun, penulis telah mencatat beragam pemikiran, diskursus, berbagai event, dan peristiwa dalam 13 buku sebagai berikut: (1) Berkaca di Cermin Retak: Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional (bersama Daru Indriyo, Ahmad Syarifudin dan Ani Kartikasari) – 2001; English Version tahun 2004, (2) Economic Valuation of Mt.Gede Pangrango National Park (bersama Tim NRM-USAID), diterbitkan olehBalai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cipanas, West Java – 2003, (3) Nakhoda: Leadership dalam Organisasi Konservasi – Conservation International Indonesia, 2005, (4) Establishing Tropical Rainforest Connectivity in Northern Sumatra: Challenges and Opportunities in Connectivity Conservation: A Global Guide – 2010, (5) Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser – 2013 dan 2019, (6) Solusi Jalan Tengah: Esai-esai Konservasi Alam – 2013, (7) Taman Wisata Alam Ruteng: Menuju Penerapan Kerjasama Berbasis Tiga Pilar.Balai Besar KSDA NTT – 2013, (8) Dari Penebang Hutan Liar ke Konservasi Leuser. Pembelajaran dari Tangkahan, TN Gunung Leuser – OIC, 2014, (9) Perebutan Ruang Kelola: Refleksi Perjuangan dan Masa Depan Perhutanan Sosial di Indonesia – 2017, (10) Situgunung Suspension Bridge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango – 2018, (11). Sepuluh Cara Baru Mengelola Kawasan Konservasi – 2018, (12) Wisata Intelektual: Catatan Perjalanan 2005-2020 Ditjen KSDAE, 2020, (13) Menuju Digital Society: Masa Depan Ras Manusia & Transformasi Digital Konservasi Alam, Ditjen KSDAE- 2021.
Organisasi yang mengurus lingkungan, konservasi alam seperti Ditjen KSDAE harus terus mengembangkan tradisi literasi seperti di atas. Oleh karena itu, lahirnya seorang sejarawan Pandji Yudistira, maka kita warga Ditjen KSDAE dapat mengetahui sejarah awal pembentukan Kawasan-kawasan konservasi sejak masa kolonial dan bahkan terungkap peranan Raja-raja Nusantara dalam kontribusinya terbentuknya Kawasan konservasi. Sang Pelopor: Peranan Dr SH Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam Indonesia (2014), Sejarah Lima Taman Nasional Pertama di Indonesia (2016), Peranan Sultan dan Raja dalam Sejarah Konservasi Alam di Indonesia (2021), dan Album Sejarah Konservasi Alam Indonesia (2022).
Sebanyak 74 UPT juga telah berlomba-lomba dalam penulisan buku terutama dalam mendokumentasikan kegiatan eksplorasi flora, fauna, dan potensi wisata alamnya. Inovasi dari 74 UPT tersebut juga telah dibukukan dengan judul 100+Inovasi Ditjen KSDAE yang terbit pada Maret 2022. Tradisi untuk memudahkan keberlanjutan kepemimpinan akan dimudahkan dengan membaca secara selektif hasil publikasi yang sangat penting tersebut.
Jurnal yang bertaraf internasional produk dari S2 dan S3 juga merupakan sumber informasi penting dan berkualitas. Komunitas internasional lebih banyak merujuk pada jurnal Scopus. Kehati-hatian dan kewaspadaan tetap harus kita lakukan, karena ada jurnal-jurnal yang memuat artikel peneliti yang pernah lama di Indonesia, dengan narasi yang provokatif dan tidak obyektif.
- Medsos
Beragam catatan hasil kerja, eksplorasi, dan perjalanan mengelola kawasan konservasi telah pula dimasukkan ke dalam media sosial, sehingga publik dapat dengan mudah mengetahui dan berpartisipasi, sehingga organisasi Ditjen KSDAE bukan lagi sebuah organisasi yang soliter tertutup, namun terbuka, inklusif, dan mendorong tumbuh kembangnya peran serta hampir seluruh komponen masyarakat. Instagram dan Youtube adalah dua wahana yang digunakan oleh 74 UPT dan Pusat Data dan Informasi Setditjen KSDAE dalam mengkomunikasikan kebijakan dan hasil kerja kepada publik dan sebaliknya menerima dan merespon dengan cepat laporan dari publik. Call Center yang telah diaktifkan mulai Juni 2017 telah terbukti sangat bermanfaat dalam membangun organisasi yang lebih egaliter dan memiliki sikap “quick response” bila terjadi berbagai persoalan di lapangan.
Potensi dan promosi wisata alam dapat diketahui publik dengan hanya men-download aplikasi “Wisata Alam Indonesia”. Untuk mengetahui dan menikmati potensi wisata alam bisa membuka akun Instagram @ayoketamannasional_official yang followernya sudah mencapai 16,3k. Era digital telah merubah model komunikasi untuk mengetahui memori organisasi dengan sangat cepat dan semoga data dan informasi yang disajikan juga akurat.
Dengan adanya berbagai wahana untuk mengungkit dan mengungkap memori organisasi, masih diperlukan indepth dialog dengan naras umber tentang berbagai hasil yang sangat penting menyangkut spirit organisasi, nilai-nilai dan etika dalam berorganisasi. Diskusi dengan narasumber yang tepat, sangat penting dan tidak tergantikan dengan hanya membaca buku dan e-books. Narasumber ini termasuk para pihak yang terkena dampak dari kebijakan yang diterapkan. Maka, mengunjungi lapangan tetap menjadi agenda penting bagi pemimpin baru yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan ke depan. Ketika ke lapangan, sekaligus dapat menerapkan prinsip “triangulasi” informasi, yaitu: check, recheck, dan crosscheck; sehingga sekaligus dapat diketahui apakah laporan tertulis yang diterima sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan dan dirasakan oleh kelompok masyarakat penerima manfaat.
Siapa narasumber terpercaya itu? Menurut keyakinan penulis, dalam hal sejarah penunjukan/ penetapan hutan-hutan konservasi di Indonesia, tidak ada yang sebaik pengetahuannya dari Pak Pandji Yudistira. Penelusuran sejarah perlindungan alam sejak era kolonial 1919-an. Dokumen berbahasa Belanda yang diterjemahkan antara lain: penelusuran sejarah peran raja-raja dalam konservasi alam, perburuan terakhir harimau jawa di Meru Betiri dan seterusnya. Ia wajib menjadi narasumber tentang sejarah alam itu. Kemampuan yang justru terlihat ketika ia sudah purna tugas terakhir di Kepala Bidang Wilayah III Ciamis (2007-2009), sampai akhirnya “jatuh cinta” setelah menemukan sejarah CA Koorders (1920) dan CA Nusa Gede Panjalu (1919), yang akhirnya menjadi titik tolaknya menelusuri sejarah perlindungan alam sampai dengan saat ini.
Prof Tukirin seorang ekologis yang pernah mengabdi di LIPI, adalah the living legend yang memantau regenerasi pasca letusan Gunung Krakatau (1883). Tidak ada peneliti yang memiliki data proses regenerasi selengkap Prof Tukirin. Yang menarik, monitoring kondisi Anak Krakatau dipantau dan diinfokan via Instagram oleh Seksi Wilayah Lampung, Balai KSDA Bengkulu dengan alamat @krakatau_ca_cal (yang saat ini mempunyai pengikut sebanyak 29,6 ribu), termasuk setiap kali terjadi erupsi.
Prof. Dr. Kuswata Kartawinata, tokoh sepuh yang pakar di bidang ekologi tropis Borneo. Kekayaan jenis hutan tropis dataran rendah Borneo dan berbagai sensitivitas rimba tropis tersebut ada di tacit knowledge dan berbagai publikasi ilmiah di dalam dan luar negeri adalah karya beliau.
Prof. Birute M. Galdikas, seorang perempuan legendaris yang sejak 1971 melakukan penelitian dan penyelamatan orangutan di TN Tanjung Putting, membimbing ratusan mahasiswa agar tertarik pada riset orangutan dan habitatnya. Beliau masih eksis sampai saat ini.
Prof. Jatna Supriatna, Dr. Jito Garjito, Dr. Barita O Manulang, Dr. Suci Utami merupakan penerus generasi kedua dan ketiga dari semua yang terkait dengan orangutan, genetik, dan perubahan habitat. Prof. Jatna seorang primatologist yang juga berpengalaman mengawal organisasi internasional yaitu Conservation Internasional (CI) di Indonesia sejak 1995 hingga 2010-an. CI adalah organisasi yang berpusat di Washington DC dan memiliki kantor perwakilan di hampir 35 negara di seluruh dunia.
Ir. Wahjudi Wardojo, M.Sc menyimpan memori tentang evolusi kebijakan Departemen Kehutanan dan pengelolaan taman nasional lebih dari 30 tahun. Pengalamannya dan pemikirannya sebagian telah didokumentasi dalam bukunya berjudul “Ïnspirasi dari Gunung Gede” pada tahun 2020. Pak Wahjudi pula yang pertama kali menetapkan zona tradisional di TN Wasur di era tahun 1990-an, RBM di TN Gunung Gede Pangrango dan Halimun (1994), Menyusun draf SK Penunjukan TN Bukit Duabelas, dimana dalamnya disebutkan bahwa penunjukan TN Bukit Duabelas tahun 2004 didasarkan pada tujuan utama untuk “melindungi ruang hidup suku anak dalam”.
Staf-staf lapangan yang bekerja di tingkat resort, penyuluh, polisi hutan, dan tenaga fungsional lainnya juga sumber informasi karena menyimpan memori tentang kondisi lapangan, sejarah konflik, peta pemain illegal logging, perambahan, perburuan satwa, pembakaran kawasan, sampai dengan jual beli lahan. Mereka juga yang mengetahui tokoh formal-informal yang berjasa dalam penjagaan suatu kawasan konservasi di wilayah kerjanya. Maka, staf lapangan tidak boleh diabaikan oleh pimpinan bahkan oleh pimpinan puncak di Jakarta.
Renungan
Organisasi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan bisa berperilaku seperti robot, kaku, blue-print, soliter, tertutup, dan menggunakan “kacamata kuda”. Model seperti ini harus segera ditinggalkan. Tanpa keterbukaan, partisipasi, pertanggungjawaban kepada publik, dan akuntabilitas publik, ia akan sekedar menjadi mesin birokrasi yang hanya bisa menghasilkan laporan proyek legal formal, yang tidak peduli apakah di tingkat lapangan telah terjadi perubahan (change) yang dapat dirasakan dan bermanfaat, baik untuk alam apalagi bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi itu.
Untuk menghindarkan dari hal tersebut, maka patut setiap pemimpin baru di masa transisi dapat merunduk, lebih banyak mendengar dari ragam sumber yang terpercaya sehingga ia dapat membaca “memori organisasi”. Dengan bersikap seperti itu, masa transisi kepemimpinan akan berjalan dengan lebih smooth, gejolak dapat dihindarkan atau dikelola dengan lebih bijak. Akhirnya diperlukan modal dasar, yaitu kesantunan untuk menjalani proses transisi tersebut.***

Tinggalkan Balasan