Santun dan Luwes

Arti kata “santun” menurut KBBI adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya, sabar dan tenang serta sopan. Juga diartikan sebagai penuh rasa belas kasihan dan suka menolong. Sedangkan arti kata “luwes” menurut KBBI adalah tidak kaku. Tidak canggung dan mudah disesuaikan atau menyesuaikan. Misalnya, para pejabat atau pemimpin harus mempunyai sikap yang luwes terhadap bawahannya.
Apakah uraian tersebut di atas mencukupi untuk menjelaskan sikap “santun” dan “luwes” terutama apabila kita menempatkannya dalam perspektif bekal untuk para pemimpin dan kapasitas kepemimpinan (leadership) yang diperlukan dalam khasanah keindonesiaan?
Santun
Sikap santun dari seorang pemimpin diperlukan, karena dengan kesantunannya, ia akan lebih mampu mendengarkan suara dari arus bawah dan akar rumput. Ia dengan cepat dan tepat memahami situasi yang sebenarnya terjadi, yang menjadi harapan kelompok yang dipimpinnya. Bukan hanya gejala-gejala yang nampak (symptom) tetapi berhasil mendalami dan menyelami akar masalah (root causes) yang sering kali tidak nampak di permukaan. Dengan sikap yang tenang, ia menjelma menjadi lubuk atau sungai yang dalam sehingga alirannya permukaannya tenang tidak mudah bergejolak seperti sungai yang dangkal. Lebih peka dan menyelami hati masyarakatnya. Hatinya penuh dengan rasa empati. Perasaan yang seolah-olah mengalami persis seperti yang dialami masyarakatnya. Sehingga tumbuh sikapnya yang selalu ingin menolong, mencarikan jalan keluar dari beragam masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang dipimpinnya.
Eillen Rachman & Emilia Jakob (Kompas11 Februari 2023) dalam artikelnya berjudul “Kerendahan Hati Pemimpin”, mengutip pendapat Jim Collin penulis buku “Good in Great”, menggambarkan humility sebagai salah satu kunci kepemimpinan. Dikutip sebagai berikut: humble leaders understand that they are not the smartest person in every room. Nor do they need to be. Biasanya pemimpin seperti ini mendorong bawahannya untuk speak up. Mereka pun sangat menghargai perbedaan pendapat, tidak peduli apakah pendapat itu datang dari eksekutif puncak ataupun dari dari anggota dalam struktur organisasi yang paling bawah sekalipun. Ia menciptakan kultur “getting the best from every team and every individual”. Kedua penulis itu menyatakan beberapa hal dapat diusahakan pemimpin untuk bersikap rendah hati, yaitu: (1) banyaklah bertanya dengan tujuan benar-benar untuk mendapatkan informasi, (2) terima ide-ide baru anggota tim kita, seaneh apapun juga kelihatannya sambil berusaha memahami dari sisi pandang mereka, (3) praktikkan rasa welas asih dan gunakan inteligen emosi kita secara optimal, (4) selalu sadari bahwa apa yang kita yakini benar pada masa lalu, belum tentu benar untuk masa datang, (5) ambil tanggung jawab ketika kesalahan terjadi sehingga bawahan pun tidak takut untuk terus bereksperimen.
Luwes
Dengan modal kesantunan itu, ia lalu bisa berusaha terus melatih dirinya berperilaku lebih luwes. Artinya ia akan terus melakukan koreksi (sekarang lebih populer dengan istilah corrective action) terhadap kebijakannya yang sangat mungkin justru bukan menjadi prioritas utama yang diperlukan masyarakat pada suatu wilayah tertentu dengan sejarah kebudayaan dan dalam hubungannya dengan pengelolaan sumber daya alam untuk kehidupannya. Keluwesan ini mendorong perilaku yang lega lila mencerap aspirasi masyarakatnya.
Proses perencanaan yang lebih bottom-up dapat terjadi ketika pemimpin memiliki kesantunan dan keluwesan dalam menghadap berbagai persoalan dan peluang pengembangan potensi yang ada di tingkat masyarakatnya. Perencanaan pembangunan yang berpusat pada manusia (people center development) yang diungkapkan Prof Soedjatmoko pada era 1980-an itu tepat sekali dikaitkan dengan bekal pemimpin yang mampu melaksanakan pembangunan yang berpusat pada manusia. Artinya pembangunan yang direncanakan bersama dari bawah, sehingga diharapkan hasilnya memang sesuai dengan aspirasi, prioritas, dan kepentingan mendesak dari masyarakat.
Keluwesan seorang pemimpin diperlukan karena beragamnya latar belakang sosial, ekonomi, budaya, aksesibilitas, sejarah pembentukan setiap suku dan suasanya kebatinan, aspirasi, dan harapannya yang juga sangat unik serta beragam. Itulah Ibu Pertiwi Indonesia dengan luas wilayah 7,81 juta km2, 80.791 kilometer panjang garis pantai, dihuni oleh 1.128 suku dengan 1.158 bahasanya.
Saya meyakini bahwa seorang pemimpin di Indonesia, minimal memiliki dua bekal, yaitu sikap mental santun dan luwes. Namun demikian, tentu sikap tegas dan ketegasan dalam mengambil keputusan serta bertanggung jawab terhadap risikonya, menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peran seorang pemimpin. Bekal santun dan luwes menjadi modal utama pula untuk mengembangkan sikap demokratis dan suasana dialogis, sehingga berbagai persoalan masyarakatnya dapat diselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Bukankah ini sila keempat dari Pancasila, dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai, pertahankan, dan kita perjuangkan.
“4K”
Namun demikian, saya juga meyakini bahwa sikap santun dan luwes itu perlu ditambah dengan pelaksanaan prinsip “4K”, yaitu: (1) Kepeloporan, berani menjadi yang terdepan memulai inovasi dan perubahan, (2) Keberpihakan, lebih memprioritaskan pada yang paling membutuhkan, kelompok minoritas, dan mereka yang terpinggirkan – diabaikan, (3) Kepedulian, turun tangan melaksanakan sikap keberpihakannya secara nyata dan dapat dirasakan, dan (4) Konsistensi.
Mental isqomah untuk terus melakukan apa yang telah diyakininya sebagai keputusan atau tindakan yang tepat, sampai tercapai tujuan akhirnya. Dengan tambahan spirit “4K” tersebut, saya yakin ia seorang pemimpin yang akan selalu dicintai masyarakatnya. Ia hidup di dalam sanubari masyarakatnya dan selalu menjadi inspirasi kolektif mereka yang dipimpinnya. Ketika ia mampu naik kelas, menjadi seorang guru atau bahkan menjadi guru bangsa, maka sikap mentalnya menurut ajaran Ki Hajar Dewantara, adalah “tut wuri handayani”. Sikap yang mengantarkan generasi penerusnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan cita-cita bangsa yang akan terus diupayakan dapat diraih, sebagai suatu never ending process. Bagaimana pendapat anda?***

Tinggalkan Balasan