Menjadi Teduh
Manusia modern saat ini rasanya sulit mampu bertahan hidup tanpa smartphone. Dengan teknologi maju di bidang IT sejak 2013 itu, terus menanjak grafik pemilik smartphone. Bahkan, saat ini hampir setiap orang yang mampu atau karena tuntutan pekerjaannya, bisa memegang dua telefon pintar itu. Saya bisa membayangkan betapa gegap gempitanya kehidupan manusia itu. Sejak bangun tidur sudah mencari HP-nya. Selanjutnya sampai larut malam, mereka diperbudak oleh semua hal dalam Facebook, Twitter, Instagram, Line, dan entah media connecting people apa lagi, beberapa tahun ke depan ini.
Dalam suasana model komunikasi seperti itu, saya kira tidak sempat lagi kita membaca koran, buku, atau merenungkan semua yang telah dilakukan atau apa yang telah terjadi dalam hidupnya, hari itu. Atau bahkan, untuk mengamati atau bertegur sapa dengan orang-orang di sekitarnya. Pecandu HP hidup soliter dalam imajinasi virtual dalam genggaman tangannya. Seolah-olah itu kasunyatan, kenyataan atau fakta. Dalam suatu keluarga yang sedang menikmati makan malam dengan anak-anaknya, terpaksa sang ayah mengatakan, “Nak, coba kumpulkan HP kalian dalam satu keranjang”, tentu termasuk HP ayah dan ibunya, lalu mereka mulai berbicara, ngobrol berbagi tentang hal-hal keseharian secara face to face, gayeng dan ramai sekali dengan bercanda dan saling meledek. Hiduplah kembali keluarga itu, sayangnya, hanya untuk beberapa saat.
Betapa kita telah diperbudak dengan teknologi. Namun demikian, untuk beberapa hal, teknologi informasi ini memang mendorong lahirnya banyak kemungkinan yang sangat baik untuk tumbuh kembangnya ekonomi lokal berbasis wisata alam. Seperti kisah Kalibiru, suatu desa wisata yang menjadi pelopor swafoto, sejak 2013 sampai dengan saat ini. Apabila kita mau bertanya dimana Kali Biru itu, tinggal googling sebentar, muncullah semua hal pernik-pernik Kalibiru. Kelahiran IT itu juga telah menelorkan anak-anak barunya di ekonomi kreatif seperti Gojek dan Grab, yang semuanya memudahkan kita dalam berkomunikasi, bahkan secara realtime. Strategi promosi dagang maupun public campaign, sudah berubah total, dari yang berbasis billboard stasioner ke video display, dalam YouTube, Podcast, dan lainnya.
Dalam dunia pelestarian alam, perlindungan binatang dan hidupan liar lainnya, kita sudah menggunakan video trap, dari yang semula kamera trap. Kita sudah menggunakan GPS Collar untuk ketua kelompok gajah, sehingga pergerakan kelompok gajah itu bisa dipantau secara langsung menggunakan smartphone berbasis android. Apabila rombongan sudah mendekati kampung, dapat segera dilakukan pencegahan atau early warning system kepada masyarakat. Indahnya teknologi apabila kita dapat menggunakannya dengan tepat. Sangat bermanfaat.
Ada sebuah artikel menarik di SindoWeek (23 Februari 2020) yang ditulis seorang pakar komunikasi digital, Dr. Firman Kurniawan berjudul Senjakala Media Sosial dan Energi Negatif. Energi negatif medsos, dinyatakan ada empat kelompok. Pertama, energi negatif dalam bentuk perundungan, yaitu serangan pribadi oleh pihak yang tidak dikenal. Kedua, energi negatif oleh keluh kesah pengguna medsos. Ketiga, energi negatif yang disebabkan oleh exposure audio-visual kekerasan fisik, dan keempat, energi negatif akibat hoax atau disinformasi.
“Menjadi Teduh” sebagaimana judul artikel ini, adalah himbauan kepada manusia untuk menggunakan teknologi secara pas, secara tepat, sesuai dengan fungsi dan kebutuhan kita. Janganlah kita diperbudaknya. Ego kita harus kita kendalikan agar tidak ngoyo woro, kemana-mana tidak ada batasnya. Menggunakan Facebook atau media yang lainnya tentu ada etika dan batasnya. Mengeksplorasi kehidupan pribadi atau kecantikan fisik di IG misalnya, sebenarnya adalah ‘makanan’ ego yang meminta pengakuan publik atau minimal para followers-nya, dengan komentarnya yang sebenarnya sangat sering membuat si pengunggah menjadi mabuk kepayang, mabuk puja-puji yang tentu saja semu dan artifisial. Karena sekedar penilaian fisik. Semakin banyak follower semakin bangga akan dirinya. Banyak sekali manusia modern yang sangat sibuk dengan smartphone namun kosong terlihat dalam sorot matanya, lalu ia menjadi manusia yang berjalan tanpa ruh. Manusia tanpa makna karena sebagian aktivitas hidupnya terjerembap dalam virtual life yang tentu saja imajiner dan menyesatkan.
“Menjadi Teduh” adalah perjalanan ke dalam diri, memeriksa ego kita yang tanpa batas itu, untuk dikontrol oleh kesadaran yang ada dalam suara hati nurani kita. Dalam proses menjadi teduh itu, adalah bagaimana akhirnya kita bisa kontemplasi dalam kepasrahan secara total. Melakukan laku yang saya sebut sebagai ‘surrender’ kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kehidupan batin dan jiwa kita semoga menjadi lebih tenang, adem, hening, karena kita selalu berusaha mendekati-Nya, dengan sepenuh kesadaran yang kita miliki, menjauhi dunia yang riuh rendah dalam jeda waktu yang walau sebentar namun dapat kita repetisi secara rutin. Tidak tunggang langgang dengan semua model komunikasi dan hubungan antar manusia yang semu.
Manusia modern akhirnya tetap merindukan face to face communication, karena hanya dengan cara itu, kita bisa melihat gesture tubuh atau bagian dari tubuhnya serta sorot matanya yang ‘hidup’, atau yang berbohong, atau yang celingukan, atau mungkin kosong, karena ingatannya melayang ke tempat lain. Saya kira face to face communication tidak tergantikan dengan media apapun. Habermas, mengatakan, “Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berkomunikasi”.
Kita bukan budak teknologi, kitalah yang menciptakannya, maka kita yang jadi tuan atas ego dan kesadaran dalam diri secara utuh, menyeluruh, dan total, dalam kaitannya dengan sikap kita terhadap hasil produk manusia bernama teknologi informasi itu. Agar kita tidak sampai terjebak pada proses dehumanisasi atau halusinasi menjadi manusia karena terlalu banyak menelan virtual unrealistic products. ***
Special Topic, GA.265, 13.15-14.29
Banyuwangi – Jakarta

Tinggalkan Balasan