Matrix of Social Evolution

Pemimpin masa depan (pemerintah, politisi, swasta, aktivis lingkungan, media massa, akademisi, local champion) yang diharapkan lahir adalah pemimpin yang berpikir secara sistem (sistem thinking) dan berpikir ekologis (memahami kesalingterhubungan antar semua komponen penyusun bumi dan dampak antroposentrisme). Tujuannya adalah untuk membangun  visi bersama (shared vision)  jangka panjang, memegang prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam menyusun rencana pembangunan dan secara konsisten mendorong aksi kolektif berdasarkan kesadaran, sehingga dapat dicapai earth sustainablility lintas generasi.

            Bagaimana membangun “aksi kolektif berdasarkan kesadaran” dapat dilakukan?  Kita coba pahami desain Otto C Schamer (2018) dalam Matrix of Social Evolution (hal.34-39), sebagaimana diuraikan pada tabel berikut ini:

Otto C Scharmer menjelaskan  bahwa social fields menggambarkan sistem sosial dimana kita secara kolektif berlakukan, misalnya: tim, kelompok, atau organisasi, atau sistem sosial-dari perspektif source (sumber). Terminologi social field menerangi bagian dalam sistem sosial dan menggambarkan sistem-sistem ini baik dari luar (pandangan pihak ketiga) dan dari dalam (pandangan orang pertama). Hal ini menginvestigasi kondisi di dalam, dimana sistem sosial berpindah dari satu tahap interaksi ke selanjutnya. Bertahun-tahun bekerja dengan kelompok dan organisasi, Otto mengidentifikasi empat pola perilaku (gambar-gambar primordial yang ada dalam alam bawah sadar kolektif manusia), atau kualitas dari social fields yang terdapat di semua system levels dari micro ke mundo (global). Mereka diringkas dalam matrix of social evolution di atas, dengan penjelasan sebagai berikut:

Horisontal axis: System Levels. Empat kolom dari matriks menggambarkan aktor mulai dari individu, grup, organisasi, dan sistem. Social fields berlaku di seluruh level ini melalui empat bentuk primer aksi: attending (micro), conserving (meso), organizing (macro), dan coordinating (mundo). Melalui keempat aktivitas tersebut kita sebagai manusia secara kolektif menciptakan kenyataan dimana kita hidup.

Vertikal axis: Levels of Consciousness. Vertical Axis menggambarkan perbedaan tahapan atau kualitas dari kenyataan sosial kita. Axis ini meringkas  kualitas dari listening dengan membedakan empat tahapan kesadaran (awareness): habitual,  ego-system, empathic, dan generative. Setiap tahapan kesadaran memiliki pola karakteristik atau field.

Penjelasan dari keempat field tersebut adalah sebagai berikut: Field 1: Habitual. Aksi saya berasal dari batas saya sendiri (I-in-me). Reaksi saya dipicu oleh kejadian eksternal dan dibentuk oleh kebiasaan saya di masa lalu. Field 2: Ego-System. Aksi saya datang dari batas pinggir sistem saya (I-in-It). Hal tersebut muncul dari kesadaran subjek-objek yang merupakan respon terhadap data dari luar sistem. Field 3: Empatic-Relational. Aksi saya berasal dari luar batas sistem saya (I-in-you). Hal tersebut muncul dari  tempat orang lain dari mana saya berkomunikasi dan bergerak darinya. Field 4: Generative Eco-system. Aksi saya berasal dari lingkungan sekitar yang melingkupi batas-batas saya yang terbuka (I-in-us/I-in-now). Hal itu muncul dari presencing a future potential. Presencing adalah proses atau kemampuan untuk menjadi hadir (presence) secara penuh atau menghadirkan diri dengan seluruh perhatian (mindfulness), pikiran, dan perasaan.

Otto C Scharmer mengatakan bahwa pada umumnya kondisi faktual dari masyarakat kita, sebagian besar dari perspektif waktu, kita melihat individu, kelompok, dan organisasi bekerja mulai dari dua tahap yang pertama (Field 1 dan Field 2). Tetapi pemimpin yang besar, menginspirasi pemain, inovator yang desruptif, dan tim yang berkinerja tinggi cenderung beroperasi  dari seluruh spektrum, dari seluruh social field tersebut, bergerak dari keempatnya sejauh diperlukan oleh kondisi yang mereka hadapi. 

            Menarik sekali memahami temuan Otto C Scharmer ini apabila kita mencermati kultur birokrasi (terutama) di pemerintahan, yang semestinya juga harus bergerak di semua spektrum sesuai kebutuhan dan tuntutan fakta dunia saat ini. Situasi dunia  yang dinamis dan dihinggapi  VUCA. Fenomena VUCA (Votality-ketidakstabilan;  Uncertainty-ketidakpastian; Complexity-kompleksitas; dan Ambiguity-bermakna lebih dari satu yang menyebabkan ketidakjelasan, keraguan, atau kekaburan) sangat berbahaya bila tidak direspons dengan tepat dan cepat. Maka, diperlukan pemimpin yang mampu membangun beragam inovasi dan bersikap adaptif tanpa harus kehilangan nilai-nilai dan visinya dalam jangka panjang. Coba sama-sama kita renungkan apakah teori tersebut di atas cukup tepat dan ampuh  untuk kita ujicoba-kan dalam tata kelola baik di pemerintahan, swasta, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, media massa, dan bahkan oleh para politisi yang dipilih untuk mewakili rakyatnya.***

Pustaka: Scharmer C Otto, 2018. The Esentials of Theory U. Core Principles and Applications.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *