Unfair World
Menarik untuk mencermati ragam pendapat tentang pembangunan dan iklim. Judul artikel ini dikopi dari artikel berjudul “Development Vs Climate” yang ditulis oleh Accra & Paris (The Economist July 1st, 2023). Selain artikel tersebut, akan saya sajikan pernyataan beberapa pakar, tentang penyebab utama atau kontributor utama perubahan iklim global dan kerusakan sumber daya alam di Bumi.
Pernyataan yang dimuat di halaman 54, The Economist July 1st 2023 itu adalah sebagai berikut: In a recent article, a number of world leaders including Joe Biden of America, William Ruto of Kenya and Muhammad bin Zayed of the United Arab Emirates wrote that they were convinced “poverty reduction and protection of the planet are converging objectives”
C Otto Scharmer dalam bukunya berjudul The Essentials of Theory U Core Principles and Applications (2018), mengungkap fakta sangat mengerikan. Ia menyatakan hal sebagai berikut: Today this journey matters more than ever. If we look into the abyss, we see three major divides. They are:
• the ecological divide: unprecedented environmental destruction—resulting in the loss of nature;
• the social divide: obscene levels of inequity and fragmentation—resulting in the loss of the social whole; and
• the spiritual divide: increasing levels of burnout and depression—resulting in the loss of meaning and the loss of Self.
The ecological divide can be summed up by a single number: 1.5. In one year our economy consumes the resources of 1.5 planets. We use 1.5 times the regeneration capacity of planet earth. And that is just the average. In the United States, for example, the current consumption rate has surpassed five planets.
The social divide can be summed up by another number: 8. Eight billionaires own as much as half of mankind combined. Yes, it’s true. A small group of people that you can fit into a minivan owns more than the “bottom half” of the world’s population: 3.8 billion people. The ecological divide can be summed up by the number 800K: More than 800,000 people per year commit suicide—a number that is greater than the sum of people who are killed by war, murder, and natural disasters combined. Every forty seconds there is one suicide.
The spiritual divide, at the beginning of the 21st century we are seeing the rise of spiritual divide. Fuelled by the massive technological disruptions that we have experienced since the birth of the World Wide Web in the 1990s, advances in technology will replace about half of our jobs by 2050. In other words, we are now facing a future that, in the words of computer scientist and co-founder of Sun Microsystems Bill Joy, “no longer needs us”— which in turn forces us to redefine who we are as human beings and to decide what kind of future society we want to live in and create.
Saya pada tahun 2012, menerbitkan buku “Solusi Jalan Tengah: Esai-esai Konservasi Alam”. Dalam buku tersebut saya mengutip pernyataan James Martin – penulis buku The Wired Society. Ia menuliskan dalam buku The Meaning of the 21 Century (2006) menyatakan bahwa 7% penduduk dunia mengonsumsi 80% energi yang tersedia. Pola konsumsi energi, air, dan sumber daya alam lainnya setara dengan konsumsi 140 orang Afganistan atau Ethiopia. James Martin menyebut tiga macam penyebab kehancuran sumber daya alam, yaitu: (1) penurunan kuantitas sumber daya alam, (2) pertumbuhan penduduk, dan (3) pola konsumsi.
Pernyataan James Martin tersebut sebagian mengoreksi pernyataan dari The Club of Rome yang menerbitkan buku The Limits to Growth pada tahun 1972, yang diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dan terjual lebih dari 30 juta copy. Dinyatakan dalam buku tersebut tentang semakin menipisnya sumber daya alam di dunia akibat negatif dari pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. Lima puluh satu tahun kemudian, asumsi itu dipatahkan: 80% sumber daya alam dunia dihabiskan oleh 7% atau segelintir penduduk dunia-mereka yang hidup ‘sangat boros’ di negara-negara Utara. Hidup boros itu jugalah yang menyebabkan pemanasan global. Menurut Greta Thurnberg (2022) dalam buku yang merupakan kumpulan pendapat lebih dari 100 pakar, dinyatakan 10 negara di dunia yang berkontribusi besar pada pemanasan global, yaitu: 1) US (420,0 GtCO2), 2) China (241), 3) Russia (117,3), 4) Germany (93,1), 5) UK (74,9), 6) Japan (66,7), 7) India (57,1), 8) France (38,5), 9) Canada (34,2), dan 10) Ukraina (30,0).
Kesimpulan yang dapat dipetik adalah bahwa temuan James Martin (2007) senada dengan pernyataan C Otto Scharmer (2018). Bahkan Otto menguraikan lebih detail tentang tiga macam keterbelahan di dunia (ekologi, sosial, dan spiritual), sebagaimana diuraikan di atas, walaupun pernyataan para pemimpin dunia, yang dimuat di The Economist (2023; hal.54), hanya poverty atau kemiskinan yang dijadikan kambing hitam. Sepuluh negara di dunia temuan Greta juga membuktikan bahwa kemiskinan (poverty) bukan merupakan satu-satunya penyebab tunggal pemanasan global. Pola konsumsi (James Martin) dan gaya hidup berlebihan (hedonis) berkontribusi paling besar. Bagaimana pendapat anda?
Situasi dunia yang tidak adil (sejak Revolusi Industri Abad 18) seperti inilah yang menjadi latar belakang ditulisnya buku ini. Agar kita mendapatkan gambaran yang utuh tentang akar masalah dari kehidupan manusia dan upaya melestarikan lingkungan hidup, termasuk kawasan-kawasan yang dilindungi. Saat ini dan di masa mendatang.
Faktor antropogenic (greediness dan lifestyle) itulah sebenarnya yang menjadi penyebab utama, selain tentu juga disebabkan meroketnya laju populasi manusia di dunia yang telah mencapai 8 milyar. Mau menahan laju suhu bumi tidak melewati 1,5 ℃ di akhir Abad ini, sungguh perjuangan yang sangat berat. Lihat saja hasil COP 28 di Dubai baru-baru ini, dimana komitmen penghapusan bahan bakar fosil belum bisa disepakati (Kompas, 13 Desember 2023). Juga komitmen pendanaan global untuk lost and damage hanya bisa terkumpul 792 juta USD. Sementara itu menurut Brojonegoro (Kompas, 16 Desember 2013), penyediaan energi alternatif sampai akhir 2050 (nuklir, angin, matahari, geothermal, dan lain-lainnya) hanya 50 persen dari kebutuhan global. Dinyatakan pula mengutip data FAO bahwa kelangkaan pangan dunia semakin tinggi dan harga pangan terus meningkat serta penduduk miskin semakin meningkat.***

Tinggalkan Balasan