Mencetak Pemimpin
Judul ini diambil persis sama dari tulisan Eileen Rachman & Emilia Jakob (Kompas, 21-01-2023). Mereka mengatakan untuk mencetak pemimpin diperlukan empat langkah. Pertama, berikan ia kesempatan untuk merasakan baik kegagalan maupun keberhasilan. Setiap orang perlu belajar dari kegagalan. Dengan bimbingan yang memadai, individu dapat melakukan refleksi ulang terhadap situasi. Tindakan yang dilakukannya sampai dampak dari tindakan terhadap diri, tim maupun organisasi. Kedua, pengecekan kualitas pribadi dan etika kerja penting untuk dilakukan. Melalui interaktif coaching dan mentoring, pemimpin akan lebih dapat memahami values dari seorang eksekutif, apa yang ia cari dalam hidupnya, apa idealismenya, apa mimpinya akan masa depan. Ketiga, melihat kapasitas adaptasi individu. Ketika pemimpin masih memiliki fixed mindset, ketidakpastian akan dianggap sebagai ancaman. Keempat, kejelasan mengenai wewenang dan tanggung jawab calon pemimpin. Ia perlu memiliki akses ke budget, manusia, dan strategi organisasi secara keseluruhan agar dapat membuat keputusan-keputusan yang berdampak seperti layaknya seorang CEO. Menarik sekali artikel ini dan sangat relevan dengan kondisi leader dan leadership baik di organisasi private maupun organisasi publik. Saya coba kaitkan dengan pendapat Daniel Goleman yang menulis The New Leader.
The New Leaders
Penulis buku “Emotional Intelligent“, Daniel Goleman, menguraikan dalam bukunya yang berjudul “The New Leaders“ (2002) tentang leadership competencies, yang terdiri dari empat indikator kunci, yaitu: self-awareness, self-management, social awareness, dan relationship management. Masing-masing indikator masih diuraikan secara rinci dalam penjelasan di bawah ini:
| Self Awareness | Self-Management | Social Awareness | Relationship Management |
| Emotional self-awareness Accurate self-assessment Self-confidence | Self-control Transparency Adaptability Achievement Initiative Optimism | Empathy Organizational awareness Service | Inspiration Influence Developing others Change catalyst Conflict Management Teamwork and collaborative |
Self-Awareness
- Emotional self-awareness. Pemimpin dengan kesadaran emosi yang tinggi dan terbiasa dengan pertanda dari dalam, mengenali bagaimana perasaan mempengaruhi performa dari pekerjaannya. Mereka terbiasa dengan nilai-nilai yang menuntunnya dan sering kali memberikan intuisi untuk berusaha sebaik-baiknya, dan melihat gambaran besar dalam situasi yang kompleks. Secara emosional, seorang self-aware leaders bisa jujur, mampu bicara terbuka tentang emosi mereka atau dengan keyakinan akan visi yang menuntunnya.
- Accurate self-assessment. Pemimpin ini sadar akan keterbatasan dan kekuatannya dan menunjukkan rasa humor tentang mereka sendiri. Mereka menunjukkan keanggunan dalam belajar dimana mereka memerlukan perbaikan dan terbuka terhadap kritik yang konstruktif dan feedback. Accurate self-assessment membiarkan pemimpin mengetahui kapan meminta bantuan dan dimana harus fokus dalam menanam kekuatan kepemimpinan baru.
- Self-confidence. Mengetahui kemampuan dengan kecermatan yang memungkinkan pemimpin bermain dengan kekuatannya. Self-confidence leaders menyambut tugas yang sulit dengan penuh percaya diri.
Self-Management
- Self-control. Pemimpin dengan emotional-self control menemukan cara mengelola emosi dan rangsangan yang mengganggu, dan sering kali mengarahkannya pada cara-cara yang bermanfaat. Mereka juga pemimpin yang tetap tenang dengan kepemimpinan yang jelas ketika menghadapi tekanan dan krisis.
- Transparency. Adalah keterbukaan yang tulus kepada pihak lain tentang perasaan, kepercayaan, dan tindakan, yang memungkinkan tumbuhnya integritas. Pemimpin seperti ini secara terbuka mengakui kesalahan dan kegagalan, dan cenderung menghadapi langsung tingkah laku yang tidak etis dari pihak lain, daripada berbalik dan menutup mata
- Adaptability. Pemimpin ini mampu menyulap berbagai tuntutan tanpa kehilangan fokus dan tenaganya. Pemimpin ini bisa luwes terhadap tantangan baru, cekatan dalam penyesuaian terhadap perubahan, lentur dalam berpikir menghadapi data dan realitas baru.
- Achievement. Pemimpin ini memiliki standar pribadi tinggi yang mendorong pencarian yang terus-menerus terhadap perbaikan performa, baik bagi mereka sendiri maupun bagi mereka yang dipimpinnya. Mereka pragmatis, menetapkan tujuan yang terukur tetapi menantang, dan mampu mengalkulasi risiko sehingga tujuan mereka tetap bernilai dan dapat dicapai. Mereka memerlukan pembelajaran yang kontinyu, pengajaran, dan cara-cara melakukan sesuatu dengan lebih baik.
- Initiative. Pemimpin ini memiliki rasa kemanjuran – apa yang mereka punya untuk mengontrol nasib mereka sendiri – melampaui inisiatif. Mereka cenderung meraih kesempatan atau menciptakannya daripada hanya menunggu. Pemimpin ini tidak segan-segan menerobos garis merah atau bahkan mengabaikan aturan ketika perlu menciptakan kemungkinan yang lebih baik untuk masa depan.
- Optimism. Pemimpin ini lebih melihat kesempatan daripada ancaman. Pemimpin ini melihat pihak lain secara positif, mengharapkan yang terbaik dari mereka. Cara pandang mereka yang “gelas separuh penuh” membawa mereka untuk berharap bahwa perubahan di masa depan untuk kondisi yang lebih baik.
Social Awareness
- Empathy. Pemimpin ini terbiasa dengan sinyal emosi yang lebar. Pemimpin ini mendengarkan dengan atensi dan dapat menangkap perspektif pihak lain. Mereka bisa bergaul dengan orang dengan berbagai latar belakang dan budaya.
- Organizational awareness. Pemimpin dengan kesadaran sosial yang tajam bisa mendeteksi jaringan sosial yang krusial dan membaca hubungan-hubungan dari kekuatan kunci. Pemimpin ini mampu mengerti tekanan politik yang terjadi dalam organisasi, juga nilai-nilai yang mengarahkan dan aturan- aturan tak tertulis yang berlaku di antara orang-orang dalam organisasi tersebut.
- Service. Pemimpin ini memantau kepuasan pelanggan secara hati-hati untuk menjamin bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka perlukan. Mereka juga senantiasa siap apabila diperlukan.
Relationship Management
- Inspiration. Pemimpin ini mampu mengartikulasikan shared-mission dengan cara-cara yang memberikan inspirasi pihak lain untuk mengikutinya. Mereka menawarkan rasa kebersamaan akan tujuan di atas tugas sehari-hari, dan membuat bekerja menjadi lebih menarik.
- Influence. Pemimpin ini bersifat persuasif dan mengajak bila mereka menghadapi kelompok. Pemimpin ini juga mengetahui cara membangun ketertarikan dari orang-orang kunci dan jaringan untuk mendukung inisiatif.
- Developing others. Pemimpin yang ahli dalam menuai kemampuan orang menunjukkan ketertarikan yang tulus bagi yang perlu ditolong, mencoba mengerti tujuan mereka, kekuatan, dan kelemahan. Pemimpin seperti ini mampu memberikan masukan yang konstruktif dan seorang pendamping yang asli.
- Change catalyst. Pemimpin yang dapat mengkatalisasikan perubahan akan mampu mengenali kebutuhan akan perubahan, menantang status quo, dan pelopor era baru. Mereka bisa melakukan advokasi dengan kuat untuk perubahan bahkan menghadapi oposisi, dan membuat argumentasi yang memaksa.
- Conflict management. Pemimpin yang mampu mengelola konflik mampu menggambarkan kepada para pihak agar mengerti berbagai perspektif yang berbeda, dan kemudian menemukan suatu idealisme bersama dimana setiap orang mendukungnya.
- Teamwork and collaboration. Pemimpin yang memungkinan pemain tim membangun suasana yang bersahabat dan membuat mereka sendiri menjadi model dari penghargaan, saling membantu, dan kerjasama. Mereka mendorong pihak lain untuk aktif, komitmen yang antusias untuk usaha bersama, dan membangun semangat dan identitas.
Kontemplasi
Walaupun analisis Daniel Goleman itu sudah dibuat 20 tahun yang lalu, yaitu tahun 2002, tetapi leadership competencies, dengan empat indikator kunci, yaitu self-awareness, self- management, social awareness, dan relationship management, menurut saya adalah indikator yang lengkap untuk menilai seorang pemimpin atau bekal menjadi calon pemimpin. Keempat indikator itu saya yakini tetap masih relevan dan justru menemukan momentumnya di era kepemimpinan digital seperti saat ini.
Contoh nyata dari emotional intelligent itu dapat kita ikuti dan cermati dari sejarah Elon Reeve Musk membangun arsitek mobil listrik Tesla dan sebagai CEO dan Chief Engineer SpaceX, walaupun sering kali keputusannya dinilai kontroversial. Atau model Greta Thurnberg, 20 tahun, salah satu pemimpin termuda yang diperhitungkan dunia karena sikap kritis dan kritiknya terhadap upaya global ratusan negara untuk menahan suhu bumi dan climate change.
Bagaimana pendapat anda?

Tinggalkan Balasan